“Insiatif Green School untuk Terwujudnya Sekolah Ramah Anak”

Bandung, 5 April 2019 – Selama satu tahun terakhir Save the Children berupaya mempromosikan program kesetaraan gender dan perlindungan anak kepada remaja perempuan dan remaja laki-laki dengan menghargai kesehatan, pendidikan, dan berbagai peluang serta mengatasi norma-norma sosial yang memiliki stereotype negatif terhadap gender melalui project #WeSeeEqual. “Salah satunya kami memastikan anak-anak selalu sehat dan juga berperilaku sehat dalam kehidupan sehari-harinya. Hal ini untuk memastikan pengetahuan kesehatan reproduksi maupun gaya hidup yang sehat sejak remaja,” ungkap Didiek Eko Yuana, Central Indonesia Area Manager Save the Children.

 

Dalam mewujudkan pola hidup sehat remaja, Save the Children bersama P&G Indonesia meluncurkan program Green School, Selasa (2/4), di SMPN 2 Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

“Dalam rangka Earth Week, kami mewujudkan program ini dengan karyawan P&G dalam upaya untuk menjadi kekuatan yang baik dalam pertumbuhan. Pengembangan aspek pola hidup sehat direalisasikan dengan mewujudkan lingkungan yang hijau di sekolah. Hal ini berarti lingkungan sekolah yang mendukung proses pembelajaran anak,” ujar Ernest Layman, Sustainability Leader, PT. Procter & Gamble Home Products Indonesia. Hal serupa diungkapkan oleh Zahra (12), siswa SMPN 2 Rancaekek “Kalau lingkungan sekolahnya kotor, bagaimana kita bisa belajar dengan nyaman.”

 

Didiek menyampaikan “Implementasi Green School dilaksanakan sebagai pilot project di SMPN 2 Rancaekek. Dalam menjalankan program Green School, Save the Children dan P&G Indonesia berkolaborasi dengan komunitas lingkungan yaitu Khazanah Hijau Indonesia dan Bandung Permaculture melalui edukasi, workshop dan instalasi Farm to School.”

“Green school yang diterapkan mengusung konsep Permaculture Living Initiative, artinya penerapan seluruh lingkaran kehidupan dimana anak-anak dapat mendapatkan pengalaman dan praktek langsung dalam pengolahan sampah, konsep pertanian yang berkelanjutan, serta keterampilan soft skill anak seperti empati terhadap lingkungan di sekitarnya,” ujar Ernest. Ia menambahkan “Biasanya program green school hanya berupa pemilahan sampah dan penghijauan, sementara yang kami terapkan adalah integrasi hulu ke hilir dari pengolahan sampah organik menjadi biogas dan sampah anorganik menjadi ecobrick, serta pembuatan kebun pangan dengan tanaman asli Indonesia dan penggunaan hasil residu biogas untuk pupuk kebun tersebut.” Program ini bekerjasama dengan Bandung Permaculture.

 

Didiek mengungkapkan bahwa Green School bukan merupakan program tersendiri “Seluruh program yang dikembangkan oleh Save the Children, baik dari We See Equal Project serta Green School mendukung implementasi Sekolah Ramah Anak sebagaimana bagian dari terwujudnya Kota Layak Anak.” Sekolah ramah anak berarti satuan pendidikan formal, non-formal dan informal yang aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi dan perlakuan salah lainnya.  Ramah anak juga berarti mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan.

Komitmen dalam mewujudkan Green School dilaksanakan pada acara Launching Green School “Permaculture Living Initiative” untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak di SMPN 2 Rancaekek pada 2 April 2019. “Kegiatan launching ini diawali dengan kegiatan berbagi inspirasi dari karyawan P&G dan Brand Ambassador untuk Pantene,” ungkap Nararya Soeprapto, Direktur, PT. Procter & Gamble Home Products Indonesia. Nararya juga menambahkan “P&G dengan komitmen Sustainability Ambition 2030 yang terbaru melakukan kemitraan transformatif dengan memperkuat program yang telah dilakukan oleh Save the Children dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan nyaman sehingga semua anak baik anak perempuan maupun anak laki-laki dapat secara percaya diri menggapai cita-citanya.”