Dunia Digital dalam Perspektif Mahasiswa Arsitek UPH

Tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi digital berdampak pada semua aspek dalam kehidupan, tak terkecuali  dalam bidang desain.

Kalau dulu proses desain dilakukan manual, kini bisa lebih mudah dan cepat dengan teknologi digital. Namun teknologi digital tidak hanya dapat digunakan dalam proses physical design sebuah bangunan, melainkan juga sangat membantu untuk memperoleh data yang akan digunakan sebagai dasar acuan pembangunan atau bahkan faktor-faktor mendukung dalam merancang sebuah kota.

 

Melihat adanya proses digital ini, menjadi dasar bagi Jacky Thiodore – Dosen Arsitektur UPH membahas dunia digital dalam perspektif arsitektur pada Talk Show ‘Show Off Friday’, 15 Maret 2019 di Gedung B 341 UPH Kampus Lippo Karawaci.  Harapannya melalui Talk Show ini mahasiswa Program Studi (Prodi) Arsitektur Universitas Pelita Harapan (UPH) lebih kritis dan memahami bidang arsitektur dalam beragam perspektif, salah satunya perspektif digital.

Jacky melalui talk show ini mencoba untuk memberikan pemahaman tentang budaya digital yang sekarang sangat pesat perkembangannya tak terkecuali  bagi bidang arsitektur. Dunia digital sendiri diartikan sebagai gambaran umum tentang modernisasi dan perangkat-perangkat yang modern misalnya adalah komputer. Perangkat modern tersebut membantu dalam memberikan data sehingga tidak perlu mendatangi objek yang ingin diteliti misalnya mengenai tingkat polusi debu sebuah daerah, tetapi hanya perlu duduk di depan komputer dan mendapatkan data tentang tingkat polusi debu dimana pun yang ingin kita cari. Dengan bantuan teknologi digital  mampu menghemat waktu untuk mendapatkan informasi.

 

Selain memaparkan manfaat dunia digital, Jacky juga turut mengingatkan pada mahasiswa Arsitektur UPH untuk tetap bijak dalam memilih suatu proses.

“Sekarang kita hidup dalam budaya digital native dimana 5 tahun ke depan yang akan bekerja adalah anak yang lahir tahun 2.000. Generasi ini sejak dari lahir sudah sangat dekat dengan yang namanya media digital dan sangat terekspose dengan internet,” Ujar Jacky.

Menurut Jacky, kecendurangan cara pandang mahasiswa sekarang ini sangat kuat untuk selalu mengaplikasikan segala sesuatu ke dalam media digital. Kecendrungan ini harus diimbangi dengan pemikiran kritis. Artinya tidak semua proses harus selalu di-digitalisasi, tapi harus dapat dipilah dengan proses yang tepat; apakah digital atau media physical.

 

Talkshow yang membahas pemanfaatan media digital dalam aplikasi bidang arsitektur ini diikuti lebih dari 100 mahasiswa arsitektur dari berbagai angkatan. Salah seorang peserta, Joshua Alfando, mahasiswa Arsitektur 2017, mengaku mendapat insight setelah mengikuti talkshow ini. Menurutnya ia semakin paham bagaimana memanfaatkan media digital untuk digunakan dalam membuat rancangan-rancangan di bidang arsitektur yang dia dapatkan di kelas.

Manfaat talk kshow juga turut dirasakan oleh Vanessa Ardelia, Arsitektur 2017,  yang mengakui bahwa proses digital sangat memudahkan, tidak hanya dalam membuat sebuah pola rancangan di komputer tetapi juga dalam proses merancang sebuah desain.

Melalui talkshow tersebut para mahasiswa arsitektur mendapat pemahaman dan wawasan leih luas mengenai keterkaitan dan manfaat penggunaan teknologi digital dalam proses desain arsitektur. Dengan adanya teknologi digital dapat memudahkan pengumpulan data yang diperlukan untuk menghasilkan desain arsitektur yang dapat menjawab permasalahan lingkungan disekitarnya. Di akhir sesi Jacky mengajak mahasiswa, untuk menjadi seorang professional Arsitektur yang juga mampu memikirkan hal-hal berkaitan dengan masalah-masalah dalam lingkungan masyarakat. Dengan adanya teknologi digital, Jacky yakin proses pengumpulan permasalahan dan pencarian solusi dapat lebih praktikal. Meskipun proses ini dapat memakan biaya lebih mahal, tapi karya yang dihasilkan dapat memberikan dampak positif dan bermanfaat untuk skala besar.