Bertahun-Tahun Jalani CAPD dengan JKN-KIS Tanpa Biaya

Sleman, Jamkesnews –  Sri Sudiarti (47) siang itu nampak menemani suaminya, Yusuf Faisal (56) di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta untuk menjalani pengambilan cairan  Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).

Yusuf adalah salah satu masyarakat yang telah merasakan manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Meski Yusuf berasal dari segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI APBN), namun ia merasakan tetap mendapatkan pelayanan yang optimal di rumah sakit.

“Suami saya sudah lama terkena gagal ginjal dan harus mejalani CAPD dan  tidak pernah mengeluarkan uang sama sekali karena menggunakan kartu JKN-KIS. Padahal kalau di hitung-hitung, setiap bulan paket CAPD biayanya bisa sampai jutaan rupiah. Apalagi kalau dengan pemeriksaan lainnya. Nggak sanggup saya membayangkan berapa habisnya kalau pakai uang sendiri. Tanpa JKN-KIS saya tidak akan mampu membawa suami saya berobat ke rumah sakit, apalagi menjalani CAPD secara rutin bertahun-tahun, uang darimana,” ungkap Sri kepada Jamkesnews.

 

Wanita asal Delanggu, Klaten, ini mengatakan, tak sekalipun ia merasakan diskriminasi selama mengantarkan suaminya menjalani perawatan di rumah sakit. Baik pasien JKN-KIS maupun pasien umum yang membayar dengan biaya sendiri, semua diperlakukan setara oleh petugas rumah sakit.

“Pelayanannya sama-sama baik. Jujur kami sangat terbantu dengan program ini karena semua biaya pengobatan suami sepenuhnya ditanggung oleh JKN-KIS. Keluarga saya puas dengan pelayanan rumah sakit. Saya sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan karena sebagai peserta PBI saya dan keluarga saya tetap memperoleh pelayanan yang sangat bagus. Terima kasih,” tutur Sri.

 

Selama ini masyarakat lebih mengenal cuci darah (hemodialisa) untuk penanganan pasien gagal ginjal ketimbang CAPD. Padahal yang membedakannya  jika hemodialisa harus dilakukan di rumah sakit, maka tindakan CAPD bisa dilakukan sendiri oleh pasien di rumah.

“Tindakan CAPD ini menurut saya lebih praktis karena pasien tidak perlu ke rumah sakit untuk cuci darah yang biasanya dilakukan 2 sampai 3 kali seminggu. Dengan CAPD ini, tindakan bisa dilakukan sendiri di rumah dan biasanya saya  cukup satu kali sebulan ke RS Dr. Sardjito untuk ambil cairannya. Suami saya juga tidak setiap bulan ke rumah sakit. Biasanya baru ke rumah sakit  saat ada keluhan saja,” ungkap Sri.

 

BNI, Lion Air, IEL University, Kementerian, Inspirational Video, TIKI, Alibaba, Danone-Aqua, Radeon, UKDW, Sony, BPJS