
PT Railink atau KAI Bandara mencatat pencapaian lebih dari 11 juta pergerakan penumpang pada layanan Kereta Api Bandara Yogyakarta International Airport (KA Bandara YIA) selama periode April 2022 hingga 16 September 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi pergerakan penumpang di tiga stasiun yang dilayani, yaitu Stasiun Yogyakarta, Stasiun Wates, dan Stasiun YIA.
Berdasarkan catatan perusahaan, jumlah penumpang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2022, sejak layanan mulai beroperasi bulan April, tercatat 1 juta pergerakan penumpang. Angka ini naik menjadi 2,4 juta pada 2023, 2,7 juta pada 2024, dan 2,8 juta pada 2025. Sepanjang Januari hingga 16 September 2026 saja, tercatat 1,9 juta pergerakan penumpang.
Baca juga:
- KAI Bandara Catat 4,6 Juta Penumpang hingga Agustus 2026
- LRT Jabodebek Catat 21,8 Juta Pengguna Sepanjang Januari-Agustus 2026
Dua Jenis Layanan
Selama masa pengelolaannya, PT Railink mengembangkan dua varian layanan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat: KA Bandara YIA Reguler yang berhenti di Stasiun Wates, serta KA Bandara YIA Xpress yang melayani perjalanan langsung antara Stasiun Yogyakarta dan Stasiun YIA.
Direktur Utama PT Railink, Porwanto Handry Nugroho, menyampaikan apresiasi kepada pelanggan dan pemangku kepentingan yang telah menjadi bagian dari perjalanan layanan ini. “Capaian lebih dari 11 juta pergerakan penumpang ini menjadi bagian penting dari perjalanan KAI Bandara dalam menghadirkan layanan transportasi publik yang menghubungkan masyarakat dengan Yogyakarta International Airport,” ujarnya.
Beralih ke KAI Commuter
Per 17 September 2026, pengelolaan layanan KA Bandara YIA resmi beralih dari PT Railink kepada PT Kereta Api Commuter Indonesia (KAI Commuter), dan selanjutnya beroperasi dengan nama baru, Commuter Line Bandara YIA. Peralihan ini disebut sebagai bagian dari upaya penguatan integrasi layanan perkeretaapian di wilayah Yogyakarta.
PT Railink menyampaikan terima kasih kepada pelanggan, pemerintah, regulator, pengelola bandara, serta seluruh pihak yang mendukung perjalanan layanan ini selama berada dalam pengelolaannya.
Catatan Redaksi. Peralihan pengelolaan dari PT Railink ke KAI Commuter ini bukan sekadar ganti nama, melainkan pemindahan operator layanan dari anak usaha yang selama ini fokus pada kereta bandara ke operator commuter line yang jaringannya lebih luas. Langkah semacam ini lazim dilakukan agar tiket, jadwal, dan integrasi antarmoda di satu wilayah dikelola oleh satu entitas, sehingga penumpang bisa berpindah moda dengan sistem tiket dan operasional yang lebih seragam.
Sumber: PT Railink.





