
Membangun kantor pusat dari lahan kosong sering dianggap rapi di atas kertas: lahan dibeli, arsitek ditunjuk, lalu struktur, mekanikal elektrikal, dan interior ditender ke penyedia yang berbeda-beda. Masalahnya, menurut PT Trimitra Menara Persada melalui lini usahanya Terra by Trimitra, kegagalan proyek semacam ini jarang terjadi pada aspek teknis, melainkan di sambungan antar pekerjaan yang tidak ada pemiliknya. Saat satu penyedia merasa tugasnya selesai dan penyedia berikutnya menerima kondisi apa adanya, biaya tambahan biasanya muncul dalam bentuk pembongkaran ulang.
Lima Lapis Pekerjaan yang Urutannya Tetap
Proses pembangunan gedung kantor selalu berjalan dalam lima lapis: persiapan dan pondasi, struktur, selubung bangunan, instalasi mekanikal elektrikal, lalu interior dan furniture. Urutan ini tidak bisa dibalik tanpa konsekuensi. Yang membedakan satu proyek dengan proyek lain hanyalah seberapa besar tumpang tindih antar lapis tersebut, dan kesalahan paling umum terjadi ketika pekerjaan interior dimulai sebelum pengujian instalasi mekanikal elektrikal benar-benar tuntas, sehingga plafon tertutup sebelum kebocoran pipa terdeteksi.
Baca juga:
- Jadwal Kantor Baru Molor? Begini Hitung Mundur dari Tanggal Pindah
- Tagihan Listrik Gedung Naik Terus? Ini Penyebabnya
Perizinan Berjalan Paralel dengan Pengerjaan
Dua dokumen mengapit seluruh rangkaian pembangunan. Persetujuan Bangunan Gedung, sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021, wajib diperoleh sebelum konstruksi dimulai, sementara dokumen kelaikan fungsi menentukan kapan gedung boleh ditempati. Keduanya membutuhkan gambar kerja yang konsisten dengan kondisi lapangan, sehingga pencatatan perubahan desain sebaiknya dilakukan sejak hari pertama proyek, bukan disusun ulang di akhir ketika banyak pekerjaan sudah tertutup.
Titik Serah yang Paling Sering Memicu Perselisihan
Setiap pergantian penyedia jasa menciptakan satu titik serah, dan lima di antaranya paling rawan menimbulkan perselisihan: struktur ke mekanikal elektrikal soal lubang tembus pada balok, selubung bangunan ke instalasi soal penetrasi pipa, instalasi ke interior soal waktu penutupan plafon, interior ke furniture soal titik daya dan jalur data, serta seluruh pekerjaan ke proses pengujian sistem. Titik pertama dinilai paling mahal bila terlewat, karena membobok balok struktur yang sudah mengeras membutuhkan kajian tersendiri.
Beberapa keputusan yang tampak seperti urusan akhir, seperti jumlah dan tata letak posisi kerja serta jenis sistem pendingin yang dipakai, sebenarnya menentukan kebutuhan daya dan ruang yang harus disediakan sejak tahap struktur. Menunda keputusan tersebut sampai tahap interior umumnya berujung pada kompromi desain, bukan pilihan yang paling optimal.
Terra by Trimitra menawarkan pendekatan konstruksi terintegrasi yang menangani pekerjaan sipil, mekanikal elektrikal, interior, hingga furniture dalam satu tim, dengan komponen furniture yang diproduksi di workshop sendiri agar penyesuaian dimensi dapat berjalan beriringan dengan pekerjaan lapangan.
Catatan Redaksi. Artikel ini bersumber dari PT Trimitra Menara Persada melalui lini usaha Terra by Trimitra, penyedia jasa konstruksi terintegrasi yang dibahas di dalamnya. Persetujuan Bangunan Gedung sendiri adalah izin pengganti IMB sejak PP 16/2021, yang menilai kesesuaian desain dengan standar teknis sebelum konstruksi dimulai, sementara sertifikat kelaikan fungsi baru diterbitkan setelah bangunan selesai dan terbukti aman untuk dihuni.
Sumber: PT Trimitra Menara Persada (Terra by Trimitra).





