
Pemerintah terus mendorong hilirisasi mineral sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar industri ekstraktif. Selama ini sebagian besar komoditas tambang Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah dengan nilai ekonomi terbatas, sehingga kebijakan hilirisasi diarahkan agar mineral diolah di dalam negeri untuk memperkuat basis industri nasional.
Deputi Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi, mengatakan Indonesia memiliki modal kuat berupa sumber daya alam melimpah yang bisa diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Menurutnya, hilirisasi mineral perlu dikembangkan secara terintegrasi dari hulu ke hilir agar manfaat ekonominya tidak berhenti pada tahap ekstraksi semata.
Baca juga:
- Hilirisasi Untuk Kemaslahatan Bangsa, MIND ID Pastikan Nilai Tambah Hulu Hilir
- Danantara Indonesia Serentak Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase-I dengan Total Nilai Investasi Hingga US$ 7 Miliar
Dari Nikel hingga Bauksit
Hilirisasi nikel telah mendorong berkembangnya industri pengolahan, mulai dari feronikel hingga bahan baku baterai kendaraan listrik. Pabrik produksi baterai milik Indonesia Battery Corporation (IBC) di Karawang menjadi salah satu bukti nyata kekayaan nikel yang kini diolah lebih lanjut di dalam negeri. Contoh lain terlihat pada ekosistem bauksit-alumina-aluminium terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dikembangkan Grup MIND ID. Proyek ini mengubah bauksit yang semula bernilai sekitar US$40 per metrik ton menjadi alumina senilai sekitar US$350 per ton, lalu menjadi aluminium yang nilainya melonjak hingga sekitar US$3.200 per ton.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai hilirisasi menjadi instrumen penting untuk memperbesar kontribusi sektor pertambangan terhadap transformasi ekonomi nasional, sekaligus memperluas penerimaan negara, menarik investasi, dan memperkuat industri manufaktur. Senada, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menyebut hilirisasi sebagai agenda strategis nasional untuk memperkuat struktur ekonomi Indonesia, mencakup komoditas nikel, bauksit, hingga batu bara.
Dengan berkembangnya proyek-proyek hilirisasi, sektor minerba diharapkan tak lagi sekadar menghasilkan komoditas mentah, melainkan menjadi penggerak industrialisasi nasional yang memperbesar penerimaan negara dan memperkuat daya saing industri di pasar global.
Catatan Redaksi. Lonjakan nilai dari sekitar US$40 menjadi US$3.200 per ton itu mencerminkan tiga tahap pengolahan berbeda. Bauksit adalah bijih mentah, alumina adalah oksida aluminium hasil pemurnian bauksit, sedangkan aluminium adalah logam murni hasil peleburan alumina melalui proses elektrolisis yang membutuhkan energi listrik besar. Karena tiap tahap menambah proses dan teknologi, harga jualnya pun berlipat, itulah logika dasar hilirisasi: mengolah bahan mentah di dalam negeri agar nilai tambahnya tidak dinikmati negara pengimpor.
Sumber: MIND ID.





