KAI Logistik Angkut 1,9 Juta Ton Barang Juli 2026, Peti Kemas Naik 28%

KAI Logistik Angkut 1,9 Juta Ton Barang Juli 2026, Peti Kemas Naik 28%
Ilustrasi (AI)

PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik), anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero), mencatatkan pengelolaan sekitar 1,9 juta ton angkutan barang sepanjang Juli 2026. Dengan capaian tersebut, volume kumulatif angkutan barang yang dikelola perusahaan sejak awal tahun mencapai sekitar 10,6 juta ton hingga Juli 2026.

Batu bara masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 67% dari total volume. Meski begitu, capaian angkutan batu bara pada Juli 2026 hanya sebesar 80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring dinamika industri seperti fluktuasi harga global dan kebijakan energi.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Peti Kemas dan Layanan Ritel Tumbuh Pesat

Di tengah tekanan pada segmen batu bara, sejumlah lini bisnis lain justru mencatat pertumbuhan. Layanan angkutan peti kemas di bawah KALOG Plus tumbuh paling tinggi, naik 28% menjadi 278 ribu ton dari sebelumnya 217 ribu ton pada periode yang sama tahun lalu. Bisnis ritel KALOG Express juga tumbuh 26%, dari 6.300 ton menjadi 8.000 ton, sementara angkutan semen naik 13% menjadi 46 ribu ton dan aktivitas bongkar muat BBM serta BBK meningkat 7% menjadi 290 ribu ton.

Direktur Utama KAI Logistik Yuskal Setiawan mengatakan, pertumbuhan di berbagai lini bisnis menunjukkan kebutuhan layanan logistik berbasis kereta api semakin meluas, tidak hanya untuk komoditas tertentu. Menurutnya, capaian ini menjadi momentum bagi perusahaan untuk memperkuat layanan transportasi logistik yang aman dan efisien.

Memasuki semester kedua 2026, KAI Logistik berencana mendorong pemanfaatan moda kereta api sebagai bagian dari penerapan green logistics. Perusahaan mengembangkan layanan Green Freight Logistics yang mencakup perhitungan dan pelaporan emisi gas rumah kaca mengacu standar internasional ISO 14083, mulai dari angkutan kereta api, terminal, hingga moda pendukung pada tahap first mile dan last mile.

Catatan Redaksi. ISO 14083 adalah standar internasional untuk menghitung dan melaporkan emisi gas rumah kaca dari operasi logistik dan rantai pasok, mencakup seluruh perjalanan barang dari titik asal hingga tujuan akhir. Standar ini memungkinkan perbandingan jejak karbon antarmoda transportasi secara konsisten, sehingga klaim ‘green logistics’ bisa diukur dengan metode yang sama di berbagai perusahaan dan negara.

Sumber: PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan