
Indonesia memproses lebih dari 2,5 juta deklarasi impor setiap tahun dan menjadi salah satu ekonomi perdagangan terbesar di Asia Tenggara. Seiring pesatnya transformasi digital, pelaku usaha kini diharapkan dapat bertukar data secara online dengan berbagai platform pemerintah dalam proses kepabeanan. Namun kenyataannya, kesiapan sistem bisnis untuk mengikuti laju digitalisasi ini masih menjadi tantangan tersendiri.
Banyak Sistem, Belum Saling Terhubung
Proses kepabeanan di Indonesia tidak dikelola lewat satu platform tunggal. Pelaku usaha lintas batas harus berinteraksi dengan sistem-sistem terpisah, seperti CEISA 4.0 untuk deklarasi kepabeanan, BPOM untuk kepatuhan pangan dan obat, serta NIB untuk perizinan usaha. Masing-masing sistem berjalan baik secara mandiri, tetapi sejak awal tidak dirancang untuk saling terintegrasi. Akibatnya, freight forwarder, broker, dan importir kerap harus memindahkan data secara manual antar sistem untuk satu proses pengiriman saja.
Persoalan ini bukan sekadar hambatan teknis yang bisa diselesaikan dengan menyambungkan API begitu saja. Web service CEISA, misalnya, menggunakan teknologi SOAP/XML dan mewajibkan perusahaan maupun PPJK berizin untuk terdaftar dan mendapat sertifikasi teknis terlebih dahulu. Pengiriman data juga memerlukan sertifikat digital kepabeanan yang valid dan terikat pada entitas tertentu — jika kedaluwarsa atau tidak sesuai kode perusahaan (NIB dan NPWP), pengiriman data bisa gagal.
Peran Middleware dalam Ekosistem Kepabeanan
Kompleksitas inilah yang membuat kebutuhan akan middleware pihak ketiga semakin mendesak, yaitu penghubung antara software freight perusahaan dan web service pemerintah yang memastikan data diterjemahkan sesuai format dan persyaratan di kedua sisi. Idealnya, platform integrasi semacam ini mampu mengotomatisasi pengajuan data, memvalidasi izin dan HS Code lebih awal, mendeteksi anomali data, mengikuti perubahan regulasi, serta melayani seluruh pihak dalam ekosistem logistik mulai dari freight forwarder, broker, importir, eksportir, hingga penyedia e-commerce.
Salah satu yang mengklaim menjawab kebutuhan ini adalah LogLines, platform besutan OneByOne yang menyediakan satu lapisan API untuk menghubungkan pelaku usaha logistik dengan ekosistem kepabeanan Indonesia. Platform ini disebut dikembangkan melalui kolaborasi langsung dengan instansi pemerintah. Dengan arah digitalisasi yang terus berlanjut, tantangan ke depan bukan lagi soal apakah pemerintah akan mempercepat transformasi digitalnya, melainkan apakah sistem bisnis mampu beradaptasi mengikutinya.
Sumber: OneByOne Logistical.





