
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) membukukan pertumbuhan signifikan pada segmen pembiayaan kendaraan listrik. Hingga September 2026, penyaluran pembiayaan untuk kendaraan listrik perusahaan ini melonjak sekitar 12,3 kali lipat secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengatakan capaian tersebut mencerminkan perkembangan positif portofolio kendaraan listrik perusahaan. Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik membuka peluang baru bagi BRI Finance untuk mengembangkan segmen bisnis ini.
Baca juga:
- NPF BRI Finance Turun ke 1,69% per Agustus 2026
- Pembiayaan Kendaraan Listrik BRI Finance Melonjak 13,8 Kali di 2026
Tetap Jaga Kualitas Pembiayaan
Dhani menekankan bahwa pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik tetap diimbangi dengan prinsip kehati-hatian. Perusahaan menyatakan akan terus memperkuat sinergi bisnis bersama BRI dan jaringan dealer, sekaligus mengembangkan produk dan layanan pembiayaan yang kompetitif sesuai kebutuhan pasar.
Di sisi lain, perusahaan mengakui bahwa keputusan konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik masih dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga kendaraan, ketersediaan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya, hingga kebijakan insentif pemerintah. Faktor-faktor ini turut membentuk dinamika persaingan di industri pembiayaan kendaraan listrik secara keseluruhan.
Dengan memperhatikan dinamika industri tersebut, BRI Finance menyatakan akan terus mengoptimalkan peluang pertumbuhan secara berkelanjutan, baik pada segmen kendaraan konvensional maupun kendaraan listrik.
Catatan Redaksi. Lonjakan 12,3 kali ini lazim terjadi pada segmen yang masih baru dan bermula dari basis penyaluran kecil, sehingga persentasenya terlihat besar meski nilai absolutnya belum tentu sebanding dengan segmen kendaraan konvensional yang sudah mapan. Prinsip kehati-hatian yang disebut perusahaan merujuk pada praktik lazim multifinance dalam menilai risiko kredit, termasuk memperhitungkan nilai jual kembali kendaraan yang bagi mobil listrik relatif lebih sulit diprediksi karena faktor penyusutan baterai, berbeda dengan kendaraan berbahan bakar minyak.
Sumber: PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance).





