
OutSystems, penyedia Agentic Systems Platform, bersama CIO Dive dan KPMG merilis laporan global bertajuk Engineering Business Outcomes: The Shift to Agentic Systems. Laporan ini mengulas sejauh mana perusahaan di seluruh dunia benar-benar siap menerapkan dan mengatur AI agentik, bukan sekadar mengadopsinya.
Survei terhadap 858 eksekutif global itu menemukan kesenjangan mencolok antara rasa percaya diri dan kesiapan operasional sebenarnya. Sebanyak 82% responden yakin organisasinya mampu mengikuti perkembangan dalam mengatur, mengintegrasikan, dan memantau agen AI. Namun hanya 26% yang merasa benar-benar siap menangani konflik yang muncul antar agen, sistem, dan alur kerja (workflow).
Asia Pasifik Unggul dalam Tata Kelola
Laporan yang juga mencakup temuan dari Australia, India, dan Jepang ini menunjukkan Asia Pasifik berada di depan kawasan lain dalam hal kesiapan dan kontrol tata kelola AI agentik. Sebanyak 39% responden di kawasan ini menyatakan sangat siap menangani konflik agen AI, jauh di atas Eropa (29%) dan Amerika Utara (18%). Selain itu, 14% perusahaan di Asia Pasifik telah menerapkan kontrol otomatis, jejak audit, dan titik tinjauan manusia, dibandingkan hanya 3% di Eropa dan 2% di Amerika Utara.
Dari sisi pengukuran dampak bisnis, secara global pengurangan kesalahan menjadi indikator yang paling banyak disebut, dengan 64% responden mengandalkannya. Namun di Asia Pasifik, 73% perusahaan justru mengukur dampak AI agentik melalui produktivitas karyawan, jauh lebih tinggi dibandingkan Eropa (52%) dan Amerika Utara (45%).
Temuan ini menegaskan bahwa adopsi teknologi AI agentik saja tidak cukup tanpa kesiapan tata kelola yang matang, terutama dalam mengelola interaksi kompleks antar banyak agen AI dalam satu sistem perusahaan.
Catatan Redaksi. AI agentik berbeda dari chatbot biasa karena agen bisa mengambil keputusan dan menjalankan tindakan sendiri, bahkan saling berkoordinasi dengan agen lain untuk menyelesaikan satu tugas. Ketika banyak agen berjalan bersamaan, bisa muncul konflik, misalnya dua agen memberi instruksi berbeda untuk sistem yang sama, sehingga perusahaan perlu mekanisme pemantauan dan titik tinjauan manusia untuk mencegah kesalahan menumpuk tanpa terdeteksi.
Sumber: OutSystems, bekerja sama dengan CIO Dive dan KPMG.





