Bali Tech Week 2026: AI, Game, dan Startup Jadi Sorotan Hari Ketiga

Bali Tech Week 2026: AI, Game, dan Startup Jadi Sorotan Hari Ketiga

Hari ketiga Bali Tech Week 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, menyoroti upaya Indonesia mengubah besarnya pasar digital menjadi kapabilitas teknologi dan nilai ekonomi domestik. Melalui rangkaian AI Impact Summit, Indonesia Game Developer Exchange (IGDX), dan diskusi investasi startup, berbagai pihak membahas langkah konkret agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsennya.

Project NUSA, Kolaborasi AI Indonesia-Singapura

Salah satu sorotan utama AI Impact Summit adalah peluncuran Project NUSA (Network for Unified, Secure AI), kolaborasi antara KORIKA dan AI Singapore yang diperkenalkan oleh Ketua KORIKA Hammam Riza bersama perwakilan AI Singapore, William Tjhi. Inisiatif ini menggabungkan ekosistem riset Singapura dengan pasar dan tenaga kerja teknologi Indonesia yang terus berkembang. Dalam sambutan virtualnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa AI berpotensi mendorong efisiensi manufaktur, analisis risiko keuangan, logistik, dan pelayanan publik, asalkan didukung infrastruktur, data berkualitas, serta tenaga profesional terlatih, termasuk bagi pelaku UMKM.

Bacaan Lainnya

Industri Game dan Peluang Ekspor

Di sisi lain, IGDX 2026 mempertemukan sekitar 240 pengembang game lokal dengan penerbit dan pelaku industri internasional selama tiga hari. Ketua Asosiasi Game Indonesia, Shafiq Husein, menyebut acara ini sebagai momentum penting untuk memperkuat kepemilikan kekayaan intelektual studio lokal, mengingat nilai komersial pasar game Indonesia saat ini masih banyak mengalir ke pengembang dan platform asing.

Target Investasi Startup dan Jaringan Dagang Terbuka

Dari sisi pendanaan, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menyampaikan target fasilitasi investasi startup sebesar Rp1 triliun sepanjang 2026. Hingga 21 Oktober, realisasinya baru mencapai sekitar Rp400 miliar, sementara sisanya masih diupayakan hingga akhir tahun di tengah investor yang kini lebih selektif menilai profitabilitas dan model bisnis. Acara ini juga menghadirkan sesi bersama T. Koshy, pendiri Open Network for Digital Commerce (ONDC) India yang kini menjabat Komisaris Indonesia Open Network (ION), membahas bagaimana infrastruktur perdagangan digital terbuka dapat membantu UMKM menjangkau pasar lebih luas tanpa bergantung pada satu platform.

Bali Tech Week 2026 sendiri merupakan inisiatif Kementerian Komunikasi dan Digital RI yang dikelola bersama DS Group, berlangsung 19–23 Oktober 2026 dengan tema “Archipelago Ascending”. Acara ini menargetkan lebih dari 4.000 peserta, termasuk 1.000 delegasi internasional dari lebih dari 30 negara.

Catatan Redaksi. ONDC yang dirujuk dalam diskusi ini adalah protokol terbuka yang memisahkan aplikasi belanja dari basis data penjual, mirip prinsip di balik jaringan transportasi atau pembayaran berbasis standar bersama. Dengan model ini, pembeli dari aplikasi apa pun bisa bertransaksi dengan penjual di aplikasi lain selama memakai protokol yang sama, sehingga UMKM tidak terkunci pada satu platform marketplace tertentu.

Sumber: Indonesia Economic Forum.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan