
Bali Tech Week 2026 mencatat lebih dari 900 pertemuan bisnis formal yang mempertemukan startup, investor, dan perusahaan teknologi dari dalam dan luar negeri. Ajang yang digelar di Denpasar, Bali, pada 19 hingga 23 Oktober 2026 ini dirancang untuk membuka ruang kolaborasi lintas sektor, mulai dari penjajakan investasi hingga diskusi kebijakan digital.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Edwin Hidayat Abdullah, menyebut forum ini sebagai upaya menyatukan pemerintah, pelaku industri, pendiri startup, investor, akademisi, dan komunitas yang selama ini kerap bertemu secara terpisah. Lebih dari 900 pertemuan tersebut difasilitasi lewat program HUB.ID, yang menjembatani startup dan investor dengan kebutuhan bisnis nyata.
Pengalaman India dengan ONDC Jadi Sorotan
Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah sesi fireside chat bertajuk “Designing Open & Interoperable Digital Markets: What We Can Learn from ONDC”, menghadirkan Thampy Koshy, tokoh di balik pengembangan Open Network for Digital Commerce (ONDC) India. ONDC dikenal sebagai inisiatif jaringan perdagangan digital terbuka yang memungkinkan berbagai platform dan pelaku usaha saling terhubung.
Pembahasan ini relevan dengan Indonesia Open Network (ION), inisiatif serupa di Indonesia yang mengadaptasi arsitektur ONDC untuk memperluas akses pasar digital bagi pelaku usaha, termasuk UMKM. Pengalaman India dinilai menjadi referensi penting dalam merancang interoperabilitas ekosistem perdagangan digital di Tanah Air.
Skala Penyelenggaraan
Pada penyelenggaraan perdananya, Bali Tech Week menghadirkan 13 kegiatan utama yang mencakup startup, investasi, gim, kecerdasan artifisial, keamanan siber, hingga aset digital. Acara ini rata-rata dihadiri 1.800 peserta per hari, dengan 27 persen di antaranya berasal dari luar negeri dan keterwakilan lebih dari 35 negara, didukung lebih dari 200 pembicara, 80 startup, dan 100 investor.
Catatan Redaksi. ONDC bekerja dengan memisahkan jaringan dari aplikasi: pembeli di satu platform bisa langsung bertransaksi dengan penjual di platform lain, karena protokol dan data katalognya dibuat terbuka dan seragam, berbeda dari model marketplace tertutup yang mengunci pembeli dan penjual di aplikasi yang sama. Pendekatan inilah yang coba diadaptasi lewat ION agar pelaku usaha kecil tidak harus bergantung pada satu platform saja untuk menjangkau pasar digital.
Sumber: Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).





