
Harga emas dunia atau XAUUSD diperkirakan masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Dalam analisis terbarunya, perusahaan pialang berjangka PT Dupoin Futures Indonesia menyoroti terbentuknya pola teknikal Bearish Pennant pada grafik harian, yang umumnya mengindikasikan potensi kelanjutan tren turun setelah fase konsolidasi.
Zona Support dan Resistance
Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, selama harga emas belum menembus zona resistance di kisaran US$4.191–US$4.218, peluang pemulihan harga masih terbatas. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut, harga berisiko bergerak turun menuju support pertama di US$4.097, dan dalam skenario pelemahan lebih dalam dapat menyentuh US$4.066.
Baca juga:
- Harga Minyak WTI Berpeluang Menguat ke US$100 per Barel
- Harga Emas Berpeluang Naik ke US$4.253, Ini Support Kuncinya
Faktor Dolar AS dan Suku Bunga The Fed
Selain faktor teknikal, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) turut menjadi tekanan tambahan bagi harga emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, emas cenderung kurang menarik bagi investor ketika yield aset berbunga naik. Ekspektasi pasar bahwa suku bunga The Fed akan bertahan tinggi lebih lama juga berpotensi memperbesar biaya peluang memegang emas, sehingga membatasi ruang kenaikan harga dalam jangka pendek.
Di sisi lain, permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven juga tetap perlu dicermati. Dupoin Futures mencatat bahwa ketegangan geopolitik yang meningkat masih berpotensi mendorong minat beli emas sebagai instrumen lindung nilai, meski secara umum tekanan jual masih mendominasi dalam skenario saat ini.
Dupoin Futures menegaskan bahwa analisis ini merupakan gambaran skenario pasar berdasarkan kondisi teknikal dan fundamental, bukan kepastian pergerakan harga maupun rekomendasi transaksi. Perdagangan instrumen berjangka tetap mengandung risiko kerugian yang signifikan bagi investor.
Sumber: PT Dupoin Futures Indonesia.





