
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan tajam sepanjang 2026, dengan koreksi mencapai sekitar 40% berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Senin (19/10/2026). Kondisi ini menjadikan pasar saham Indonesia salah satu yang berkinerja terburuk secara global tahun ini. Tekanan besar sempat terjadi pada Jumat (16/10/2026), ketika IHSG merosot 11,4% setelah lembaga indeks global MSCI menyatakan kekhawatiran soal aksesibilitas dan transparansi pasar Indonesia, serta membuka konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar RI.
Potensi perubahan status tersebut memunculkan kekhawatiran akan arus keluar modal asing. Di sisi lain, nilai tukar rupiah pada Senin pagi dibuka menguat tipis ke level Rp18.025 per dolar AS, sebuah indikator yang turut dicermati investor karena ikut memengaruhi keputusan alokasi dana ke aset-aset global.
Bagaimana Posisi Bitcoin?
Di tengah gejolak pasar saham domestik, sejumlah investor melirik aset alternatif seperti Bitcoin, meski karakteristik risikonya berbeda dari saham. Berdasarkan data historis platform FLOQ, harga pasangan BTC/IDR dalam 52 minggu terakhir berkisar dari sekitar Rp1,02 miliar hingga titik tertinggi Rp1,93 miliar. Pada 19 Oktober 2026, harga Bitcoin dalam rupiah tercatat sekitar Rp1,48 miliar. Pergerakan ini menegaskan bahwa kinerja historis Bitcoin tidak menjamin keuntungan di masa depan, karena harganya juga dipengaruhi oleh pasar kripto global dan fluktuasi nilai tukar.
Menanti Halving Bitcoin 2028
Selain pergerakan harga, pelaku pasar juga mencermati faktor fundamental jaringan Bitcoin, termasuk peristiwa halving yang memangkas separuh imbalan penambang setiap sekitar empat tahun. Halving terakhir terjadi pada April 2024, sedangkan halving berikutnya diperkirakan berlangsung pada 2028. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menyebut bahwa periode menjelang halving berikutnya—sekitar 600 hari dari sekarang—masih menyisakan ruang bagi perubahan sentimen pasar. Ia mengingatkan bahwa harga belum tentu sepenuhnya mencerminkan ekspektasi halving, sehingga kenaikan besar pada 2027 bukan sesuatu yang pasti terjadi.
Yudho menambahkan bahwa perkembangan regulasi, akses investor, infrastruktur perdagangan, dan permintaan riil perlu dicermati bersama-sama, bukan hanya siklus halving semata. Ia menegaskan bahwa diversifikasi portofolio ke aset seperti Bitcoin tidak menghilangkan risiko, karena volatilitas tinggi dan potensi penurunan harga tajam tetap melekat pada instrumen ini.
Sumber: FLOQ.





