
Thai ERP Co., Ltd., pengembang platform Thai-Swiss ERP, mengumumkan pencapaian baru dalam pengembangan sistem operasi industri terdesentralisasi. Platform ini diklaim telah memproses dan memvalidasi lebih dari 400.000 transaksi data langsung dari lini produksi menggunakan jaringan blockchain publik Hedera Hashgraph.
Menurut perusahaan, pencapaian ini merupakan hasil riset dan pengembangan intensif selama satu tahun. Bersamaan dengan pengumuman ini, Thai ERP juga meluncurkan token internal bernama TERP serta membuka integrasi transaksi menggunakan koin HBAR, aset kripto bawaan jaringan Hedera.
Menghubungkan Mesin Pabrik ke Blockchain
Sistem ini disebut mengumpulkan data telemetri secara real-time dari tiga lengan robot ABB, satu lengan robot KUKA, serta mesin CNC dari Haas dan Mazak. Setiap 15 detik, sistem merekam stempel waktu, status operasional, nama program yang berjalan, hingga jumlah siklus kerja mesin, yang kemudian dicatat secara permanen di blockchain agar tidak dapat diubah. Perusahaan menyebut arsitektur sedang ditingkatkan untuk menampung kapasitas hingga 600.000 transaksi per minggu, dan dirancang terbuka agar dapat disambungkan ke merek kontroler lain seperti FANUC, Siemens, DMG MORI, dan Mitsubishi Electric.
Skema Biaya dan Token
Thai ERP menawarkan layanan pemantauan mesin bagi segmen UKM mulai dari Rp990.000 per mesin per bulan, dengan opsi keanggotaan tahunan senilai Rp314.000.000 serta harga khusus berbasis volume untuk pabrik skala besar. Pembayaran dapat dilakukan melalui token TERP atau HBAR, yang di Indonesia dapat diperdagangkan secara legal melalui bursa aset kripto terdaftar seperti Tokocrypto dan Indodax.
CEO Thai-Swiss ERP, Tongpian Freiburghaus, menyatakan timnya telah membangun jembatan antara perangkat keras industri konvensional dan jaringan blockchain publik, dan ke depan akan memperluas pencatatan otomatis ini hingga mencakup dokumen bisnis seperti pesanan pembelian, faktur, dan kontrak.
Sumber: Thai ERP Co., Ltd.





