Saham Johnson & Johnson Turun 7% usai Laba Kuartal III 2026

Saham Johnson & Johnson Turun 7% usai Laba Kuartal III 2026
Ilustrasi (AI)

Saham Johnson & Johnson mengalami tekanan pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, meski perusahaan kesehatan asal Amerika Serikat itu mencatatkan kinerja kuartal III yang melampaui ekspektasi pasar. Mengutip Yahoo Finance, saham J&J sempat turun hampir 7% akibat kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan bisnis teknologi medis (MedTech) yang lebih lambat dari perkiraan. Sebelum koreksi ini, saham J&J telah menguat lebih dari 27% sepanjang tahun berjalan.

Pendapatan Lampaui Ekspektasi, MedTech Jadi Sorotan

Pada kuartal III 2026, J&J membukukan pendapatan US$25,4 miliar dengan laba yang disesuaikan sebesar US$2,59 per saham, melampaui perkiraan analis. Namun, divisi MedTech hanya tumbuh 2,5% menjadi sekitar US$8,6 miliar, di bawah estimasi analis sebesar US$8,71 miliar, dan menjadi kuartal kedua berturut-turut dengan pertumbuhan yang melemah.

Bacaan Lainnya

CFO J&J, Joe Wolk, menyebut tantangan datang dari berbagai arah, termasuk hasil studi di Inggris yang mempertanyakan manfaat pompa jantung Impella pada pasien berisiko tinggi, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang membuat sejumlah negara mengalihkan anggaran dari sektor kesehatan ke pertahanan.

Farmasi Jadi Penopang, Rencana Spin-off DePuy Synthes

Di sisi lain, segmen Innovative Medicine tumbuh 7,7% menjadi US$16,76 miliar, didorong lonjakan penjualan obat Tremfya sekitar 68%. Meski proyeksi pendapatan dan laba tahun penuh 2026 kembali dinaikkan, hal ini belum cukup meredakan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Johnson & Johnson juga berencana memisahkan bisnis ortopedi DePuy Synthes melalui aksi spin-off yang ditargetkan rampung pada pertengahan 2027, agar perusahaan dapat lebih fokus pada bidang kardiovaskular dan teknologi bedah robotik.

Pergerakan saham J&J menjadi pengingat bahwa laba dan pendapatan yang kuat tidak selalu menjamin kenaikan harga saham. Investor tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan tiap segmen bisnis serta risiko geopolitik yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan ke depan.

Sumber: Nanovest.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan