
Popularitas kuliner Jepang di Indonesia terus meningkat, tak hanya lewat sajian utama seperti sushi dan ramen, tetapi juga pilihan kasual seperti onigiri dan takoyaki. Data Kedutaan Besar Jepang menyebutkan jumlah restoran Jepang di Indonesia kini mencapai sekitar 6.500 gerai, terbanyak di Asia Tenggara. Sebuah studi tahun 2025 terhadap Gen Z di Jakarta Selatan juga mencatat mayoritas responden mengonsumsi makanan Jepang setidaknya sebulan sekali, dengan cita rasa sebagai faktor utama pemilihan.
Tren tersebut mendorong Janji Jiwa, salah satu brand di bawah JIWA Group, berkolaborasi dengan chef sekaligus restaurateur Ray Janson dalam kampanye bertajuk “A Twist of Japan”. Kolaborasi ini menerjemahkan karakter rasa Jepang ke dalam format toast yang praktis dan mudah dinikmati sehari-hari, alih-alih menghadirkannya dalam bentuk hidangan Jepang konvensional.
Dua Menu Baru
Melalui kolaborasi ini, Janji Jiwa memperkenalkan dua kreasi baru. Goma Chicken Toast memadukan roti panggang dengan ayam crispy pedas, kol segar, mayones, saus wijen, dan bawang putih goreng. Sementara Menchi Beef Katsu Toast menghadirkan crispy beef menchi katsu dengan kol segar, mayones mustard, dan saus bergaya Jepang yang manis-gurih.
CEO JIWA Group Billy Kurniawan mengatakan kolaborasi ini menjadi cara Janji Jiwa mengeksplorasi perspektif baru atas menu toast yang sudah dikenal luas. Ray Janson, yang pernah berkarier di dapur ternama seperti Noma di Copenhagen dan L’Atelier de Joël Robuchon di Paris serta kini memiliki izakaya SEBA Blok M, menyebut tantangan utamanya adalah menjaga rasa Jepang tetap familiar dan mudah diterima konsumen Indonesia tanpa mengorbankan konsistensi kualitas produk.
Catatan Redaksi. Izakaya adalah kedai khas Jepang yang menyajikan hidangan kecil untuk dinikmati bersama minuman, berbeda dari restoran fine dining yang mengutamakan penyajian formal bertahap. Noma dan L’Atelier de Joël Robuchon sendiri dikenal luas sebagai dapur rujukan teknik masak kontemporer, sehingga pengalaman di sana kerap jadi acuan kredibilitas seorang chef. Kolaborasi menu terbatas seperti ini juga lazim dipakai merek makanan cepat saji untuk menghadirkan variasi rasa baru tanpa mengubah format produk utamanya.
Sumber: Janji Jiwa (JIWA Group).





