DBS Indonesia Soroti Peluang Investasi RI Jelang 2027

DBS Indonesia Soroti Peluang Investasi RI Jelang 2027

Bank DBS Indonesia menggelar forum bertajuk “The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027” untuk membahas peluang investasi Indonesia di tengah dinamika ekonomi global yang semakin multipolar. Forum ini turut dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno, para analis DBS Group Research, serta perwakilan sejumlah perusahaan multinasional.

Menurut data yang dipaparkan DBS Group Research, arus penanaman modal asing (PMA) ke Asia Tenggara meningkat dari sekitar USD 225 miliar pada 2024 menjadi hampir USD 250 miliar pada 2025, menjadikan kawasan ini salah satu tujuan investasi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Tren relokasi rantai pasok global seperti “China+1” dan “Taiwan+1”, agenda hilirisasi nasional, serta potensi Indonesia di sektor kendaraan listrik dan semikonduktor disebut menjadi pendorong utama minat investor.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Strategi Expand, Deepen, atau Reassess

Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao menilai keunggulan Indonesia ke depan tak lagi sekadar soal sumber daya alam dan besarnya pasar, melainkan juga kemampuan menarik investasi berbasis teknologi serta menjaga stabilitas kebijakan makroekonomi. DBS menyebut perusahaan multinasional kini dihadapkan pada tiga pilihan strategi menuju 2027: memperluas (expand), memperdalam (deepen), atau meninjau ulang (reassess) eksposur bisnis mereka di Indonesia, tergantung sektor dan toleransi risiko masing-masing.

Riyatno dari BKPM menambahkan bahwa realisasi investasi Indonesia pada semester pertama 2026 telah mencapai hampir separuh dari target pertumbuhan 7,2 persen year-on-year. Pemerintah, kata dia, terus memperbaiki iklim investasi lewat reformasi regulasi dan penyederhanaan perizinan melalui sistem OSS versi 2 yang kini didukung teknologi AI dan blockchain.

Head of Large & Multinational Corporates Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Natalia Ratulangi mengatakan kebutuhan perusahaan multinasional kini semakin kompleks, mulai dari pembiayaan modal kerja hingga mitigasi risiko nilai tukar dan kebijakan. Bank DBS Indonesia mengklaim menyediakan solusi perbankan end-to-end, mulai dari capex financing, sustainability-linked loan, trade dan treasury products, hingga cash management dan strategic advisory, guna mendukung ekspansi perusahaan multinasional di kawasan Asia.

Catatan Redaksi. China+1 dan Taiwan+1 adalah strategi perusahaan multinasional memindahkan sebagian rantai pasok keluar dari kedua negara itu untuk mengurangi risiko konsentrasi produksi, sehingga negara alternatif seperti Indonesia berpeluang menerima limpahan investasi manufaktur. OSS versi 2 sendiri adalah sistem perizinan usaha daring milik pemerintah yang menyatukan proses izin lintas kementerian dan daerah dalam satu platform, sehingga pengusaha tidak perlu mengurus izin secara terpisah ke tiap instansi.

Sumber: Bank DBS Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan