
Banyak pekerja mengeluhkan hal yang sama: gaji sudah naik, tapi saldo tabungan di akhir bulan tetap stagnan atau bahkan minus. Penyebabnya jarang soal besar-kecilnya penghasilan, melainkan fenomena yang disebut lifestyle inflation atau lifestyle creep — kondisi ketika pengeluaran ikut naik sebanding, bahkan lebih cepat, dari kenaikan pendapatan.
Fenomena ini sulit disadari karena berjalan bertahap. Tidak ada satu keputusan besar yang terasa boros, melainkan kumpulan keputusan kecil seperti menambah langganan streaming, lebih sering memesan ojek online, atau naik kelas tempat makan, yang masing-masing terasa wajar sendiri-sendiri. Perubahan lingkungan sosial turut mendorong standar hidup baru terasa “normal” begitu penghasilan bertambah.
Baca juga:
- Omzet Naik tapi Laba Menipis? Ini Penyebab yang Terlewat
- CMO Nanovest: Generasi Muda Perlu Belajar Menumbuhkan Uang
Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Beberapa indikator lifestyle inflation antara lain: rasio tabungan yang tidak kunjung naik meski gaji sudah naik berkali-kali, ketidaksadaran soal ke mana kenaikan gaji mengalir, jumlah langganan bulanan yang terus bertambah tanpa pernah dievaluasi ulang, dorongan untuk upgrade barang meski yang lama masih layak pakai, serta dana darurat yang tidak kunjung bertambah signifikan.
Data turut memperkuat pola ini. Indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia pada 2026 tercatat 69,57 persen, naik dari 66,64 persen pada 2025, namun kenaikan pemahaman produk keuangan tidak otomatis diikuti kebiasaan menabung yang konsisten. Di sisi lain, jumlah kelas menengah Indonesia justru menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025, menandakan banyak rumah tangga berpenghasilan cukup tetap rentan turun kelas saat biaya hidup naik lebih cepat dari kemampuan menabung.
Cara Mendeteksi dan Menghentikannya
Langkah yang disarankan antara lain menghitung rasio tabungan (bukan cuma nominal gaji), membandingkan pengeluaran per kategori dari tahun ke tahun, menerapkan aturan tunda 30 hari sebelum berkomitmen pada pengeluaran rutin baru, serta mengotomatiskan sebagian kenaikan gaji langsung ke rekening tabungan terpisah pada hari gajian. Aturan sederhana yang umum dipakai perencana keuangan adalah mengalokasikan minimal 50 persen dari setiap kenaikan gaji untuk tabungan atau investasi, dan sisanya baru dinikmati untuk peningkatan gaya hidup.
Catatan Redaksi. Rasio tabungan dihitung dari jumlah yang ditabung dibagi total penghasilan bulanan, bukan sekadar nominal gaji atau saldo di rekening. Angka ini penting karena bisa saja gaji naik tapi rasionya tetap atau turun, tandanya pengeluaran ikut membesar mengejar pendapatan. Perbandingan kelas menengah yang menyusut sementara literasi keuangan naik menggambarkan bahwa memahami produk keuangan (tabungan, investasi, asuransi) berbeda dari kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.
Sumber: BPR KS.



