OSL Indonesia Gelar Grand Launch di Bali, Usung Global Compliance

OSL Indonesia Gelar Grand Launch di Bali, Usung Global Compliance

OSL Indonesia resmi merayakan peluncuran perdananya di Indonesia melalui acara bertajuk “OSL’s Obsession Night: Where Global Compliance Meets Relentless Innovation” yang digelar di Bali pada 19 Agustus 2026. Acara ini dihadiri sekitar 350 tamu, mulai dari pemangku kepentingan industri, mitra strategis, regulator, key opinion leader, media, hingga komunitas dan pelaku ekosistem aset digital.

Rangkaian acara menghadirkan perpaduan budaya lokal dan teknologi, mulai dari pertunjukan tradisional Bali, kembang api, hingga pembagian (airdrop) aset kripto USDGO kepada tamu yang hadir. OSL Indonesia menyebut suasana tersebut sebagai representasi arah baru perusahaan yang ingin lebih terbuka dan dekat dengan komunitas.

Bacaan Lainnya

President Director OSL Indonesia, Ivan Arilito, mengatakan momen ini menandai langkah awal perjalanan jangka panjang perusahaan di Indonesia. “Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa OSL Indonesia hadir dan siap menjadi bagian dari perkembangan ekosistem keuangan digital Indonesia. Kami ingin membangun hubungan yang kuat dengan komunitas, partners, pengguna, dan seluruh stakeholders,” ujarnya.

Positioning Baru: Global, Compliant, Empowering

Dalam kesempatan yang sama, OSL Indonesia memperkenalkan positioning barunya, “Empowered by Global Compliance”, yang bertumpu pada tiga nilai utama: Global (pengalaman dan kapabilitas internasional OSL), Compliant (kepatuhan dan tata kelola sebagai fondasi kepercayaan), serta Empowering (komitmen memberi akses, edukasi, dan transparansi bagi pengguna). Perusahaan juga menyoroti peluang dari perkembangan tokenisasi aset yang dinilai dapat memperluas utilitas aset digital.

Untuk mendukung layanannya, OSL Indonesia menghadirkan fitur Quick Trade/RFQ yang memungkinkan eksekusi perdagangan cepat dengan akses 24 jam, termasuk untuk aset digital seperti USDGO. Perusahaan turut mengingatkan bahwa perdagangan dan investasi aset kripto memiliki risiko, termasuk fluktuasi harga, likuiditas, teknologi, dan perubahan regulasi, sehingga pengguna disarankan melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.

Sumber: OSL Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan