CEO Tokocrypto: Tokenized Stocks Tanda Kripto RI Makin Matang

CEO Tokocrypto: Tokenized Stocks Tanda Kripto RI Makin Matang

Industri aset kripto di Indonesia dinilai mulai bergerak melampaui narasi spekulasi harga semata. Kemunculan produk seperti tokenized stocks, meningkatnya keterlibatan institusi, hingga penguatan kerangka regulasi disebut sebagai sejumlah pertanda bahwa industri ini memasuki fase yang lebih matang. Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk “Navigating the Future: Macroeconomics, Regulation, and the Path to Mainstream Crypto in Indonesia” yang digelar Tokocrypto dalam rangkaian Coinfest 2026 di Bali, Jumat (21/8).

CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengatakan persepsi publik terhadap aset kripto kini jauh berbeda dibanding masa-masa awal ketika aset ini kerap dipandang skeptis. Menurutnya, kejelasan regulasi dan penguatan perlindungan konsumen membuat proses adopsi aset digital menjadi lebih terbuka bagi masyarakat. Diskusi tersebut turut dihadiri Founder Malaka Project Ferry Irwandi dan Founder ASTRONACCI Gema Goeyardi, dengan moderator Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) Yudhono Rawis. Uli Agustina dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut hadir mengikuti rangkaian acara.

Bacaan Lainnya

Tokenized Stocks dan Kebutuhan Edukasi

Calvin menyoroti kehadiran produk tokenized stocks yang memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap saham global tanpa harus membuka rekening broker luar negeri dengan berbagai lapisan proses. Ia menilai perkembangan ini menunjukkan potensi aset digital menjembatani sistem keuangan konvensional dengan teknologi Web3. Namun ia mengingatkan bahwa kemudahan akses harus diimbangi edukasi, agar keputusan investasi tidak semata didorong oleh euforia atau FOMO di pasar.

Pandangan itu digemakan Gema Goeyardi, yang menegaskan budaya mencari untung secara instan perlu ditinggalkan seiring makin beragamnya instrumen investasi digital, termasuk perdagangan futures. Ia mengingatkan pentingnya investor memahami profil risiko dan pengelolaan portofolio. Sementara itu, Ferry Irwandi menilai industri kripto telah menunjukkan ketahanan melewati berbagai siklus pasar dan perlu dilihat lebih luas dari sekadar pergerakan harga, dengan edukasi tetap jadi kebutuhan bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi digital.

Menuju Pasar Aset Digital 24 Jam

Pada sesi kedua, pembahasan berlanjut ke topik tokenisasi aset dunia nyata (real-world assets). President Southeast Asia Alpaca, Rohit Mulani, memproyeksikan pasar keuangan bergerak menuju sistem yang beroperasi 24 jam penuh sepanjang tahun, di mana modal dapat berpindah lebih efisien antara aset likuid dan produktif. BD Director Exchanges Circle, Nicholas Soong, menambahkan bahwa tokenized money market funds berpotensi membuat aset yang dijadikan collateral tetap menghasilkan imbal hasil selama proses perdagangan berlangsung. Para panelis sepakat bahwa regulasi dan fragmentasi likuiditas masih menjadi tantangan utama, sehingga dibutuhkan kolaborasi antara pelaku industri, institusi keuangan, bursa, dan regulator agar inovasi berkembang secara terukur sekaligus melindungi pengguna.

Sumber: Tokocrypto.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan