
Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation memperkuat dukungan terhadap dua pelaku usaha sosial (social enterprise), Parongpong RAW Lab dan Mycotech Lab (MYCL), yang mengembangkan solusi ekonomi sirkular dengan mengolah limbah menjadi material bernilai tambah. Dukungan ini disalurkan melalui DBS Foundation Grant Program, yang memberikan pendanaan, pendampingan, dan akses jejaring bagi usaha berdampak agar bisa memperbesar skala bisnisnya.
Inisiatif ini merespons dua masalah sekaligus: pengelolaan sampah yang belum maksimal serta kerentanan ekonomi petani dan nelayan skala kecil di Indonesia. “Parongpong RAW Lab dan MYCL menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat menjawab isu lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi nelayan, petani, dan masyarakat yang selama ini berada di rantai nilai yang rentan,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika.
Parongpong RAW Lab: Ubah Jaring Bekas Jadi Peluang bagi Nelayan
Sebagai penerima hibah DBS Foundation 2025, Parongpong RAW Lab menjalankan program Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment di Cilincing (Jakarta) dan Muncar (Banyuwangi). Program ini mengubah jaring ikan bekas atau ghost net menjadi material bernilai tambah sekaligus membuka pendapatan tambahan bagi komunitas pesisir. Dalam dua tahun, program ini menargetkan pengumpulan 20 ton ghost net, melibatkan 1.000 anggota komunitas, dan mendukung lebih dari 600 nelayan.
Hingga Agustus 2026, Parongpong telah mengumpulkan lebih dari 4.500 kg ghost net atau sekitar 46 persen dari target tahun ini, melibatkan 179 nelayan, dan menjangkau 150 siswa lewat program edukasi. Perusahaan juga mengembangkan platform pencatatan digital bernama SISA serta produk turunan berupa Circulites, lampu meja dengan material Prototiles berbahan jaring bekas.
MYCL: Material Berbasis Jamur dan Rumput Laut untuk Pasar Global
MYCL, penerima hibah DBS Foundation sejak 2016 dan 2018, mengembangkan material berbasis mycelium dan rumput laut sebagai alternatif material konvensional, mencakup mycelium composite, mycelium leather, hingga seaweed biopolymer. Dukungan DBS Foundation membantu MYCL mengamankan dua paten, tiga merek dagang, serta sertifikasi B Corp. Hingga 2026, MYCL telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara, termasuk bekerja sama dengan Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas.
Pada 2025, MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa pertanian, menghindarkan sekitar 148,75 ton emisi CO2, dan memberi manfaat bagi lebih dari 200 petani serta menciptakan lebih dari 60 lapangan kerja hijau. Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD21,5 juta hibah ke lebih dari 160 social enterprise di Asia, termasuk lebih dari SGD4 juta untuk lebih dari 20 usaha berdampak di Indonesia.
Catatan Redaksi. Ghost net adalah jaring ikan yang hilang atau sengaja dibuang ke laut dan terus menjerat biota laut selama bertahun-tahun, sehingga pengumpulannya juga membantu mengurangi kerusakan ekosistem pesisir, bukan sekadar daur ulang sampah biasa. Sementara itu, mycelium adalah jaringan akar jamur yang bisa dipadatkan menjadi material menyerupai kulit atau busa, salah satu alternatif yang tengah dikembangkan industri tekstil dan fesyen untuk mengurangi ketergantungan pada kulit hewan atau plastik. Adapun B Corp adalah sertifikasi internasional bagi perusahaan yang memenuhi standar tertentu dalam kinerja sosial dan lingkungan, bukan hanya profitabilitas.
Sumber: Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation.





