
Bandung, 14 Juli 2026 — Momentum satu abad panas bumi Indonesia menjadi titik tolak baru bagi pengembangan energi panas bumi secara nasional. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan panas bumi melalui inovasi, kolaborasi, dan diversifikasi pemanfaatannya. Komitmen tersebut disampaikan dalam The 5th ITB International Geothermal Workshop (IIGW) 2026 bertema New Horizons in Geothermal: Beyond Conventional Boundaries yang dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat, Senin (13/07/2026). Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, investor, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan panas bumi di Indonesia.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho dalam paparannya menegaskan babak baru pengembangan panas bumi Indonesia.
“Seratus tahun perjalanan panas bumi Indonesia membuktikan bahwa energi panas bumi telah menjadi salah satu fondasi penting ketahanan energi nasional. Ke depan, fokus PGE adalah mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” ujar Andi Joko Nugroho.
Perjalanan pengembangan panas bumi di Indonesia bermula dari survei manifestasi panas bumi di Kamojang, yang kemudian dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926. Sejak saat itu, Indonesia berkembang menjadi salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di dunia dengan potensi sekitar 24 gigawatt (GW). Potensi kedua terbesar di dunia ini merupakan modal besar untuk memperkuat ketahanan dan swasembada energi nasional pada abad berikutnya.
Sebagai sumber energi baru terbarukan yang mampu menghasilkan listrik bersih secara andal selama 24 jam, panas bumi tidak hanya berperan dalam pembangkitan listrik, tetapi juga mendukung pengembangan industri hijau yang membutuhkan pasokan energi yang bersih dan stabil. Menjawab peluang tersebut, PGE mengembangkan berbagai inovasi, mulai dari pemanfaatan langsung (direct use) untuk sektor pertanian dan industri hingga pengembangan green hydrogen sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon.
Akademisi Geotermal dari ITB Ir. Nenny Miryani Saptadji, Ph.D., meyakini dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, energi panas bumi dapat menjadi sumber energi yang andal bagi Indonesia dalam jangka panjang. Dalam pemaparannya, Nenny menyebutkan bahwa PLTP Kamojang dapat menjadi leading example dalam pengelolaan panas bumi yang berkelanjutan.
“Panas bumi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi mendatang. Karena itu, saya mengajak para mahasiswa untuk mempelajari dan mengembangkan panas bumi sebagai bagian dari masa depan energi Indonesia,” ungkapnya.
Komitmen PGE dalam mendukung pengembangan panas bumi Indonesia juga mendapatkan pengakuan pada ajang IIGW 2026 melalui dua penghargaan, yakni Ganesha Geothermal Award for Outstanding Funding dan Ganesha Geothermal Award for Long-Term Commitment. Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas kontribusi berkelanjutan Perseroan dalam mendukung riset, pendidikan, inovasi, serta pengembangan indsutri panas bumi di Indonesia.
Tiga Pilar Strategis Menyongsong Abad Kedua Panas Bumi Indonesia
Di sisi operasional, PGE juga mempercepat transformasi digital melalui pengembangan berbagai inovasi teknologi. Perseroan mengembangkan digitalisasi dan teknologi pengujian sumur panas bumi untuk meningkatkan akurasi data, efisiensi operasi, serta mempercepat pengambilan keputusan dalam pengembangan lapangan panas bumi.
Andi Joko Nugroho menambahkan, percepatan pengembangan panas bumi hanya dapat dicapai melalui kolaborasi lintas sektor yang kuat.
“Melalui penguatan inovasi, kolaborasi lintas sektor, serta perluasan pemanfaatan panas bumi, PGE optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai world-leading geothermal producer sekaligus geothermal centre of excellence. Ke depan, Perseroan akan terus mengoptimalkan aset eksisting, mendorong ekspansi bisnis, sekaligus mengembangkan berbagai sumber pendapatan masa depan (future revenue streams) melalui inovasi dan diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi,” ujar Andi Joko Nugroho.
Komitmen tersebut juga tercermin dalam kinerja keberlanjutan Perseroan. Saat ini, PGE mencatatkan skor ESG Risk Rating sebesar 7,1 berdasarkan penilaian Sustainalytics, tertinggi di Indonesia. PGE juga menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.
Selain itu, PGE turut berkontribusi dalam menghindari emisi sekitar 4,29 juta ton CO₂e, dibandingkan dengan emisi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik non-EBT. Perseroan juga mencatat intensitas emisi sebesar 0,041 ton CO₂e per MWh, yang mencerminkan peran panas bumi sebagai sumber energi rendah karbon yang andal.
Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang, PGE menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola mandiri mencapai 1 GW pada 2028. Target tersebut akan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034. Langkah ini diharapkan dapat semakin memperkuat kontribusi PGE dalam mendorong pertumbuhan industri panas bumi nasional sekaligus mempercepat terwujudnya ketahanan dan swasembada energi Indonesia pada abad kedua pengembangan panas bumi.






