
Perkembangan kecerdasan buatan (AI), social commerce, dan ekonomi kreator mendorong pelaku usaha di Indonesia mencari model pemasaran digital yang lebih terintegrasi. Kebutuhan menghasilkan konten dalam jumlah besar untuk berbagai kanal, sekaligus mengukur hasil kampanye secara akurat, membuat pendekatan pemasaran konvensional dinilai semakin rumit untuk dikelola.
Menjawab kebutuhan tersebut, Tigo AI mengembangkan konsep Marketing as a Service (MaaS) yang menggabungkan produksi konten berbasis AI, jaringan kreator lokal, distribusi multi-kanal, dan analitik performa dalam satu sistem. Layanan ini menyasar berbagai skala bisnis, mulai dari UMKM dan seller e-commerce hingga brand besar yang membutuhkan kampanye dalam volume tinggi.
Produksi Konten hingga Distribusi Kreator
Melalui fitur yang disebut AI Content Factory, sistem Tigo AI mengolah informasi produk dan target audiens menjadi berbagai bentuk materi pemasaran, seperti video pendek, visual, dan naskah iklan. Kemampuan menghasilkan banyak variasi konten sekaligus juga memungkinkan brand melakukan pengujian A/B secara lebih cepat untuk menemukan pendekatan kreatif yang paling efektif. Konten tersebut kemudian didistribusikan melalui jaringan kreator lokal yang menurut perusahaan telah mencakup lebih dari 100 ribu kreator, dalam format review, tutorial, hingga rekomendasi produk.
Performa kampanye dapat dipantau melalui dashboard yang menampilkan indikator seperti exposure, engagement, traffic, dan transaksi. Perusahaan mengklaim sistemnya dilengkapi teknologi anti-fraud untuk menyaring aktivitas dan traffic yang dinilai tidak valid.
Skema Kerja Sama Fleksibel
Tigo AI menyediakan beberapa model kerja sama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengiklan, termasuk biaya layanan platform, cost per action (CPA), dan cost per sale (CPS), dengan salah satu skema menerapkan biaya layanan sebesar 15 persen. Untuk pelaku UMKM, sejumlah layanan disebut dapat dimulai dengan anggaran mulai sekitar Rp50 ribu tergantung jenis kampanye. Dalam roadmap 2026-2028, perusahaan berencana memperluas jaringan advertiser dan kreator serta memperkuat data konten buatan pengguna lokal.
Catatan Redaksi. Marketing as a Service (MaaS) mengacu pada model bisnis yang menggabungkan beberapa jasa pemasaran, produksi konten, distribusi, hingga analitik, ke dalam satu platform berlangganan, mirip konsep Software as a Service tapi untuk kebutuhan kampanye pemasaran. Adapun CPA (cost per action) dan CPS (cost per sale) adalah skema pembayaran iklan di mana pengiklan membayar hanya ketika audiens melakukan tindakan tertentu atau transaksi terjadi, berbeda dari model tayang iklan konvensional yang dibayar di muka berdasarkan jumlah penayangan.
Sumber: Tigo AI.





