
Perusahaan teknologi akuakultur FisTx yang berbasis di Sleman, Yogyakarta, terus memperluas jangkauan bisnisnya di tengah tantangan industri budidaya perikanan nasional. Perusahaan yang didirikan oleh Rico Wisnu Wibisono ini menyebut sekitar 65 persen kegagalan budidaya ikan dan udang di Indonesia dipicu oleh rendahnya kualitas benih dan pakan, ditambah mayoritas pembudidaya yang masih mengandalkan metode konvensional rentan cuaca.
Untuk menjawab persoalan itu, FisTx mengembangkan lima lini solusi terintegrasi mulai dari teknologi pengolahan air seperti sistem disinfeksi berbasis UV, elektrolisis, dan nano disinfektan, hingga lini nutrisi, jasa konstruksi kolam, program pendampingan lapangan bagi petambak, serta kemitraan lintas sektor. Menurut perusahaan, teknologi ini telah digunakan di 25 provinsi dan tiga negara yakni Kuwait, Timor Leste, dan Bahrain, dengan lebih dari 40 ribu produk yang telah didistribusikan ke sekitar 1.500 petambak.
Klaim Peningkatan Hasil Panen
FisTx mengklaim adopsi teknologinya mampu mendongkrak tingkat keberhasilan budidaya atau success rate hingga 83,6 persen, menaikkan hasil panen sekitar 33 persen, serta menekan biaya produksi termasuk rasio konversi pakan (FCR) hingga 27 persen. “Petambak Indonesia tidak butuh produk tunggal, mereka butuh satu ekosistem yang saling menopang dari hulu ke hilir,” kata Rico Wisnu Wibisono, Founder & CEO FisTx.
Langkah ekspansi terbaru datang dari penandatanganan nota kesepahaman dengan Pak Gharo Agri & Livestock Farms (PGA & LF) asal Pakistan, yang membuka peluang perluasan pasar ke Pakistan, Asia Selatan, hingga kawasan Timur Timur Tengah. CEO PGA & LF, Arshad Aziz, menyebut sektor akuakultur Pakistan membutuhkan solusi biosekuriti yang sudah teruji di lapangan seperti milik FisTx.
Sejumlah praktisi turut memberi tanggapan atas perkembangan ini. Pakar akuakultur senior sekaligus mantan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, Hasanuddin Atjo, menekankan pentingnya inovasi sterilisasi air berbiaya terjangkau agar industri tidak terus bergantung pada bahan kimia. Salah satu petambak di Pangandaran juga mengaku berhasil menekan masalah bakteri vibrio di tambaknya dan mempertahankan tingkat keberhasilan panen di atas 85 persen selama empat siklus terakhir.
Sumber: Siaran pers FisTx via Vritimes.





