
Harga Bitcoin (BTC) turun ke kisaran US$63.900 pada 30 Juli 2026, mencatat koreksi sekitar 2,7% dalam sepekan dan sempat menyentuh level terendah US$62.785. Penurunan ini menembus area support penting di US$64.000, menurut laporan Market Outlook dari platform edukasi aset digital FLOQ.
Sinyal Hawkish dari The Fed
Bank Sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75% dalam pertemuan 29 Juli, penahanan kelima berturut-turut. Namun tiga pejabat regional The Fed justru mengusulkan kenaikan 25 basis poin, sehingga probabilitas kenaikan suku bunga pada September melonjak ke sekitar 72,3% dari kisaran 54–63% sebelumnya. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai keputusan menahan suku bunga kali ini tidak bisa dibaca sebagai sinyal dovish karena mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Konflik AS-Iran Kerek Harga Minyak
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah jeda serangan yang hanya bertahan dua hari. Pada 29 Juli, Iran dilaporkan menembakkan rudal ke pangkalan udara AS di Yordania, yang dibalas serangan AS dan Arab Saudi terhadap kelompok pro-Iran di Irak timur. Harga minyak Brent naik 3,42% menjadi US$86,97 per barel, sementara WTI naik 3,58% menjadi US$82,09 per barel, memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global.
Arus Dana ETF dan Proyeksi Teknikal
ETF Bitcoin spot di AS mencatat net inflow US$33,8 juta pada pekan hingga 24 Juli, namun kehilangan momentum dengan outflow US$240 juta pada Jumat, memutus rangkaian tujuh hari arus masuk. Sebaliknya, ETF Ethereum membukukan inflow mingguan sekitar US$104 juta, mengindikasikan rotasi modal investor institusional. Secara teknikal, Yudho menyebut Bitcoin berpotensi bergerak di rentang US$62.800–US$65.700, dengan penembusan konsisten di bawah US$62.800 berisiko membuka koreksi lebih dalam.
Pelaku pasar diimbau mencermati sejumlah rilis data ekonomi AS awal Agustus, termasuk ISM Manufacturing PMI, ADP Employment Report, dan laporan ketenagakerjaan pada 7 Agustus, yang akan menjadi indikator penting arah kebijakan The Fed selanjutnya.
Sumber: Siaran pers FLOQ via VRITIMES.

