BBM Terpantau Aman Hadapi Puncak Arus Balik

0 31

JAKARTA – Jelang puncak kepadatan lalu lintas kendaraan bermotor menuju ke ibu kota Jakarta, tim posko nasional sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan ketersediaan semua jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) terpantau normal hingga Selasa malam (19/6).

“Kondisi stok dan penyaluran BBM nasional berjalan secara normal. Dibandingkan dengan hari sebelumnya, konsumsi seluruh jenis BBM mulai mengalami kenaikan,” ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Rabu (20/6).

Tercatat, realisasi penggunaan Premium sebesar 33.477 kilo liter (KL) dengan coverage days 24 hari, Solar/Akrasol 15.592 KL (20 hari), Pertalite 48.478 KL (24 hari), Pertamax/Akra 92 21.665 KL (20 hari), Pertamax Turbo 770 KL (38 hari), Kerosene 1.694 KL (41 hari), Pertamax Dex 435 KL (47 hari), Dexlite 505 KL (20 hari) dan Avtur 16.599 KL (28 hari).

Di samping itu, Pemerintah juga menjamin akses tambahan pendistribusian Premium di 571 SPBU Reborn (SPBU yang menyalurkan kembali Premium) yang sudah berjalan sejak tanggal 14 Juni 2018. “BPH Migas dan Ditjen Migas telah melakukan monitoring langsung ke sebagian besar SPBU Reborn untuk memastikan pendistribusian Premium lancar. Sisanya akan dimonitoring lebih lanjut,” imbuh Agung.

Jaminan ketahanan BBM diperkuat dengan hasil monitoring lapangan menunjukkan tidak ada Terminal BBM (TBBM) dengan stok kritis dimana TBBM yang terhubung dengan pipa stock lebih dari 3 hari.

Terkait penyediaan kelistrikan nasional, meski terdapat 2 sistem listrik yang siaga di Lombok dan Jayapura, tim Posko ESDM mencatat 20 sistem listrik berjalan normal. Secara keseluruhan Daya Mampu Pasok Nasional sebesar 30.274,36 MW dan Beban Puncak sebesar 25.714,02 MW sehingga Kapasitas Cadangan Daya Nasional sebesar 4.496,74 MW.

Walaupun berstatus siaga, namun listrik penyaluran listrik di kedua wilayah tersebut secara keseluruhan tidak terganggu lantaran sistem dinyatakan siaga dikarenakan cadangan listrik lebih kecil dari pembangkit terbesar. Rinciannya, terindikasinya gangguan turbin pada Sistem Lombok dikarenakan PLTU LED unit 2 (25 MW) trip proteksi turbin. Sedangkan sistem Jayapura, diakibatkan lantaran adanya gangguan pada PLTMG Blok I (78 MW).

Untuk menjaga sistem kembali normal, PLN akan mengoperasikan Mobile Power Plant Jeranjang 2×25 MW Lombok sesuai keperluan. Sementara untuk sistem Jayapura, PLN mempercepat perbaikan Circuit Breaker dan melakukan manuver beberapa pembangkit sesuai keperluan.

English English Indonesian Indonesian