
Jakarta, 13 Mei 2026 — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) sebagai perusahaan renewable energy berbasis panas bumi terus memperkuat perannya dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia serta kontribusi terhadap Nationally Determined Contribution (NDC) melalui penyediaan energi rendah karbon. Meski bisnis yang dijalankan telah menjadi bagian dari energi hijau rendah emisi, PGE tetap secara konsisten menjalankan berbagai inisiatif efisiensi energi dan pengurangan emisi di seluruh lini bisnis dan operasional. Upaya tersebut merupakan bagian dari implementasi operasi berkelanjutan.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan penerapan praktik keberlanjutan secara konsisten menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan panas bumi yang andal, efisien, dan berdaya saing.
Andi menambahkan, seluruh implementasi keberlanjutan Perseroan dijalankan secara transparan dengan mengacu pada standar pelaporan global. Pelaporan keberlanjutan Perseroan juga telah melalui proses verifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000 dengan kualifikasi assurance type 1 dan type 2 level moderate.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, PGE mencatat penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh sepanjang tahun lalu, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 40.058,77 MWh. Peningkatan efisiensi tersebut didorong oleh berbagai optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP), antara lain debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu yang memungkinkan sumur bertekanan rendah masuk ke sistem produksi, optimalisasi operasional vacuum pump pada Gas Extraction System di seluruh PLTP PGE untuk menekan own use, serta modifikasi hand control valve di Lumut Balai guna meminimalkan uap yang terbuang ke rock muffler.
Selain itu, Perseroan juga terus mendorong berbagai inovasi efisiensi energi dan pengurangan emisi, termasuk pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan internal operasional seperti penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas operasional dan perkantoran. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan listrik dan uap panas bumi agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap sistem ketenagalistrikan nasional.
Di sisi lain, PGE mencatat rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh pada 2025 atau turun 10,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio tersebut merupakan perbandingan antara total energi yang dikonsumsi Perseroan dengan total listrik panas bumi yang diproduksi. Capaian ini mencerminkan semakin efisiennya penggunaan energi dalam mendukung operasional perusahaan. Sementara itu, penggunaan energi terbarukan dalam operasional tetap terjaga tinggi mencapai 94,36 persen.
Dari sisi pengelolaan emisi, intensitas emisi PGE tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh atau masih berada jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh. Capaian tersebut menunjukkan bahwa operasional panas bumi PGE tetap berada dalam kategori energi rendah karbon. Pada saat yang sama, kapasitas operasi panas bumi PGE turut berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e pada 2025.
Perkuat Praktik 4R dan Efisiensi Air di Seluruh Operasional
Selain mendorong efisiensi energi dan pengurangan emisi, PGE juga terus memperkuat pengelolaan limbah non-B3 secara berkelanjutan melalui pendekatan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery). Pada 2025, volume limbah non-B3 yang berhasil dikelola melalui pendekatan tersebut mencapai 17 ton, meningkat 24,5 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar 13,66 ton.
Pengelolaan limbah berkelanjutan tersebut dilakukan melalui pendekatan waste circularity dengan penerapan pengelolaan limbah non-B3 secara terjadwal dan bertanggung jawab. Limbah non-B3 tersebut diangkut ke bank sampah dan/atau tempat pemrosesan akhir (TPA) di luar area operasi PGE untuk dikelola bersama masyarakat melalui pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pengomposan. Langkah ini dilakukan untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis prinsip 4R sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam ekonomi sirkular.
Di sisi lain, PGE juga terus memperkuat pengelolaan sumber daya air secara bertanggung jawab sebagai bagian dari implementasi operasi berkelanjutan. Pada 2025, konsumsi air Perseroan tercatat turun 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter dibandingkan 393,23 megaliter pada 2024.
Terus Berinovasi Manfaatkan Energi Bersih
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pengembangan beyond electricity, termasuk ekosistem green hydrogen berbasis panas bumi. Salah satunya melalui proyek Tanjung Sekong Green Terminal yang memanfaatkan green hydrogen berbasis panas bumi untuk mendukung kebutuhan energi di terminal LPG Cilegon. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi dekarbonisasi lintas sektor.
PGE juga terus membuka peluang pengembangan pemanfaatan energi panas bumi untuk kebutuhan industri hijau lainnya, termasuk pengembangan green data center berbasis energi bersih rendah emisi.
Sejalan dengan penguatan implementasi keberlanjutan tersebut, pengelolaan LST Perseroan terus menunjukkan kinerja positif. Hal ini tercermin dari skor Sustainalytics ESG Risk Rating sebesar 7,1 atau kategori risiko dapat diabaikan yang diperoleh pada 2025. Skor ini menempatkan PGE sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia dalam jajaran Top 50 ESG Global dari 42 negara. Capaian tersebut mencerminkan kuatnya implementasi ESG Perseroan di tingkat global, khususnya dalam pengelolaan risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Selain itu, Perseroan turut meraih berbagai penghargaan dan pengakuan, termasuk 20 penghargaan PROPER Emas hingga 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
“Pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. PGE juga memastikan seluruh operasional dijalankan secara bertanggung jawab, efisien, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar. Karena itu, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas Perseroan ke depan. Komitmen tersebut dijalankan sejalan dengan empat pilar keberlanjutan PGE, yaitu Nature, Zero Emission, People & Socioeconomics, serta Transformation Catalyst,” terang Andi Joko Nugroho.
Sebagai energi baru terbarukan, panas bumi merupakan energi baseload andal yang mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca maupun impor bahan bakar. Karakteristik ini menjadikan panas bumi berperan penting dalam mendukung transisi energi rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.





