
Harga Bitcoin kembali melemah ke kisaran US$81.600 pada 23 Oktober 2026, turun sekitar 2,3% dalam 24 jam terakhir berdasarkan data CoinMarketCap. Dalam periode tersebut, harga sempat bergerak di rentang US$81.567 hingga US$84.840, hanya beberapa hari setelah Bitcoin sempat mendekati US$85.000 pada 21 Oktober sebelum kembali tertekan.
Support dan Resistance Jadi Acuan
Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyoroti area US$80.000 sebagai support bulanan dan US$85.000 sebagai resistance untuk dicermati. Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menyebut pelemahan ini menunjukkan sentimen pasar masih rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi global. Menurutnya, investor perlu mencermati berbagai indikator tanpa berasumsi tekanan harga akan berlanjut atau segera berbalik.
Baca juga:
- IHSG Rebound Setelah Anjlok 11,6%, Bitcoin Terkoreksi ke US$81.982
- Bitcoin Turun ke US$82.400, 3 Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Pelemahan aset kripto turut dipengaruhi penurunan saham teknologi serta ketidakpastian seputar valuasi perusahaan AI. Faktor makro lain yang disorot dalam riset internal Bittime antara lain ekspektasi suku bunga The Fed, inflasi AS yang tercatat 3,7% secara tahunan pada September 2026, dan kenaikan harga minyak Brent ke sekitar US$111 per barel pada 20 Oktober.
Arus Dana ETF dan Pasar Domestik
Arus dana spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat tercatat masuk bersih sekitar US$526,7 juta pada 19 Oktober 2026, namun melambat menjadi sekitar US$23,2 juta pada hari berikutnya, menandakan fluktuasi minat investor institusional. Di Indonesia, OJK mencatat nilai transaksi aset kripto mencapai Rp23,16 triliun pada Agustus 2026, naik 12,87% dari Rp20,52 triliun pada Juli, dengan jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital mencapai 23,21 juta.
Ryan mengingatkan bahwa produk seperti Bittime Futures memungkinkan pengguna mengambil posisi long maupun short merespons volatilitas harga, namun ia menegaskan perlunya memahami risiko leverage, margin, dan likuidasi. “Tidak ada strategi yang dapat menjamin keuntungan di tengah pergerakan harga yang tidak pasti,” ujarnya.
Sumber: Bittime.





