
Sebuah pendekatan baru dalam merespons keadaan darurat mulai diperkenalkan di Indonesia. Model bernama Drone as First Responder (DFR) membalik urutan respons yang selama ini berlaku: alih-alih langsung mengirim petugas ke lokasi kejadian, drone dikirim terlebih dahulu untuk memastikan kondisi dari udara sebelum orang diterjunkan.
Konsep ini diusung oleh Halo Robotics, perusahaan teknologi drone yang mengembangkan sistem dock otomatis. Dengan dock tersebut, drone dapat lepas landas sendiri begitu ada pemicu alarm, terbang menjalankan tugas pemantauan, lalu kembali mengisi daya tanpa perlu kehadiran pilot di lokasi. Pilot cukup mengawasi dari jarak jauh dan tetap memegang kendali penuh, termasuk mengambil alih kendali kapan pun diperlukan.
Kenapa relevan untuk Indonesia
Menurut Halo Robotics, model ini cocok diterapkan pada aset-aset yang tetap beroperasi saat harus diinspeksi, seperti kilang aktif, area tambang dengan lalu lintas alat berat, pelabuhan, hingga kawasan padat orang. Menurunkan petugas hanya untuk memeriksa alarm sering kali tidak praktis, sementara pemantauan udara dinilai lebih memungkinkan dan efisien, baik untuk keperluan keamanan, pemantauan kebakaran, maupun operasi pencarian dan pertolongan.
Perusahaan menekankan bahwa faktor penentu keberhasilan model ini bukan semata teknologi drone itu sendiri, melainkan juga aspek perizinan. Operasi otomatis semacam ini termasuk kategori BVLOS (beyond visual line of sight), yakni penerbangan di luar jarak pandang langsung, yang memerlukan izin dari otoritas penerbangan. Halo Robotics menyatakan menjadi pemegang izin operasi BVLOS berbasis SORA dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DGCA) di Indonesia.
Dengan model ini, setiap alarm berpotensi dicek lebih dulu dari udara sebelum satu orang pun dikerahkan ke lokasi, sehingga keputusan jumlah personel yang dikirim dapat diambil berdasarkan kondisi yang benar-benar terlihat di lapangan.
Sumber: Halo Robotics.





