Nanoemulsi-Spons Gel sebagai Solusi Luka DM yang Terinfeksi MRSA

68

Diabetes mellitus (DM) merupakan ancaman serius bagi kesehatan manusia dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Pada tahun 2015, Indonesia menduduki peringkat ketujuh negara dengan jumlah penderita DM terbesar di dunia yakni mencapai sepuluh juta jiwa.

Penyakit ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi, salah satunya adalah luka yang sulit sembuh. Hal itu sering kali mengakibatkan banyak penderita DM harus melakukan amputasi kaki. Selain itu, luka pada penderita DM dapat diperparah dengan adanya infeksi bakteri. Salah satu di antaranya adalah Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Berawal dari persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa UGM mengembangkan solusi penyembuh luka DM yang terinfeksi MRSA. Kelompok tersebut terdiri atas Nada Hanifah (Fakultas Kedokteran Hewan), Yusuf Farid Achmad (Fakultas Kedokteran Hewan), dan Aida Humaira (Fakultas Farmasi).

Ketiga mahasiswa itu mencoba memanfaatkan ekstrak spons laut. Nada menerangkan bahwa spons laut mengandung senyawa bioaktif sebagai antibakteri yang dapat mempercepat penyembuhan luka.

Dari ekstrak spons laut itu, mereka membuatnya menjadi gel spons. “Alasannya yaitu ekstra spon yang telah menjadi gel dengan partikel nano sehingga dapat lebih mudah menembus permukaan kulit dan mempercepat penyembuhan luka,” jelas Nada.

Nada menjelaskan proses pembuatan gel spons diawali dengan ekstraksi spons laut. Kemudian, dilanjutkan dengan uji difusi dan uji dilusi untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak spons laut tadi. Setelah didapatkan hasilnya, tahapan selanjutnya yaitu uji in vivo atau pra klinis pada hewan coba tikus guna melihat efektivitas nanoemulsi-gel ekstrak spons pada penyembuhan luka. Setelah beberapa waktu, ternyata didapat kesimpulan bahwa dengan nanoemulsi-gel ekstrak spons memberikan pengaruh yang baik dalam proses penyembuhan luka DM yang terinfeksi MRSA.

Nada berharap hasil temuan ini mendapat perhatian dari pemerintah dan pihak terkait guna melanjutkan ke tahapan uji selanjutnya, yaitu uji toksisitas dan uji klinis. “Hal itu karena tidak sedikit dari karya anak bangsa yang hanya berlanjut sampai lembaran jurnal saja tanpa adanya kebersinambungan,” pungkasnya.