
Hubungan Indonesia dan Tiongkok yang terus menguat di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, teknologi, hingga pendidikan, membuka peluang baru bagi generasi muda untuk membangun kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar global. Menjawab peluang ini, BINUS University menghadirkan program bernama Global Business Chinese (GBC).
Program tersebut dirancang untuk memadukan penguasaan bahasa Mandarin dengan pemahaman terhadap dunia bisnis, budaya, dan pola komunikasi khas Tiongkok. Menurut BINUS, kemampuan berbahasa saja kini dinilai tidak cukup bagi talenta muda yang ingin bersaing di lingkungan bisnis global, terutama yang berkaitan dengan Tiongkok.
Baca juga:
Satu Perjalanan, Dua Negara
BINUS University mengusung tema besar “One Journey. Two Countries. Two Degrees. One Global Future” untuk menggambarkan konsep pembelajaran lintas negara yang mereka tawarkan. Melalui skema ini, mahasiswa akan menjalani sebagian masa studi di Indonesia dan sebagian lainnya di Tiongkok, sebagai bagian dari upaya membentuk pengalaman akademik internasional yang lebih utuh.
Menurut BINUS, pengalaman belajar lintas negara bukan sekadar berpindah lokasi kuliah, melainkan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat dunia bisnis dari sudut pandang berbeda, mengenal budaya secara langsung, serta membangun jejaring internasional. Kemampuan adaptasi dan komunikasi lintas budaya menjadi bagian penting yang ingin ditanamkan lewat program ini.
Melalui Global Business Chinese, BINUS University menyatakan ingin mempersiapkan mahasiswa yang mampu memahami keterkaitan antara bahasa, budaya, dan bisnis Tiongkok, sekaligus mengambil bagian dalam peluang yang tumbuh seiring semakin eratnya hubungan kedua negara.
Catatan Redaksi. Skema double degree seperti ini umumnya berarti mahasiswa mendapat dua ijazah resmi, satu dari kampus asal dan satu dari universitas mitra di Tiongkok, karena kurikulum dan masa studinya dirancang bersama dan diakui kedua institusi. Model ini berbeda dari sekadar program pertukaran pelajar jangka pendek, sebab bobot kredit dan kelulusannya terikat pada dua sistem pendidikan sekaligus, sehingga mahasiswa perlu memenuhi standar akademik di kedua negara.
Sumber: BINUS University.





