
ASEAN Centre for Energy (ACE) meluncurkan laporan 9th ASEAN Energy Outlook (AEO9) yang menyoroti tantangan besar transisi energi di kawasan, termasuk kebutuhan investasi sekitar USD 405 miliar per tahun hingga 2060. Laporan ini menekankan bahwa ketahanan energi ASEAN ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan negara-negara anggota mengelola permintaan energi, memperkuat konektivitas, dan memobilisasi investasi secara bersama-sama.
Dalam skenario dasar (Baseline Scenario), konsumsi energi final ASEAN diproyeksikan melonjak dari sekitar 485 juta ton setara minyak (Mtoe) pada 2025 menjadi 2.047 Mtoe pada 2060. Namun, melalui skenario transisi terkoordinasi atau ASEAN Coordinated Transition Scenario (ACTS), lonjakan konsumsi energi itu dapat ditekan menjadi 1.073 Mtoe pada 2060 lewat peningkatan efisiensi energi, elektrifikasi, dan peralihan jenis bahan bakar.
Baca juga:
Tantangan Lahan untuk B50 di Indonesia
Secara khusus untuk Indonesia, AEO9 menyoroti tantangan penggunaan lahan akibat peningkatan konsumsi biofuel. Implementasi B50, yaitu campuran bahan bakar diesel dengan 50 persen biodiesel, diperkirakan membutuhkan konversi lahan antara 4,85 hingga 8,55 juta hektare. Angka ini menggambarkan semakin besarnya tekanan yang harus dikelola antara kebutuhan energi, pangan, dan penggunaan lahan di dalam negeri.
Di sisi lain, laporan tersebut menyebut pengembangan advanced biofuel sebagai salah satu jalan keluar untuk meredam tekanan tersebut. Bila porsi advanced biofuel dapat ditingkatkan hingga 40 persen pada 2060, kebutuhan lahan untuk biofuel generasi pertama atau first-generation biofuel yang bergantung pada tanaman dan hasil pertanian diperkirakan dapat berkurang sekitar 8 juta hektare.
Catatan Redaksi. B50 berarti 50 persen kandungan bahan bakar diesel diganti biodiesel yang umumnya diolah dari minyak kelapa sawit, sehingga makin besar porsinya makin luas lahan sawit yang dibutuhkan. Advanced biofuel dibuat dari bahan non pangan seperti limbah pertanian, minyak jelantah, atau residu kayu, sehingga tidak bersaing langsung dengan lahan tanaman pangan maupun perkebunan sawit baru, itulah sebabnya perluasannya bisa menekan kebutuhan konversi lahan secara signifikan.
Sumber: ASEAN Centre for Energy (ACE).





