UPH Sukses Gelar Seminar dan Diskusi Internasional bersama The University of North Carolina, Bertema: Indonesia in International Relations

Setelah berhasil menjalankan Seminar Pusat Studi G20 pada Desember 2022, Universitas Pelita Harapan (UPH) kembali meraih kesuksesan dalam penyelenggaraan Seminar dan Diskusi Internasional secara hybrid bersama The University of North Carolina, Carolina Asia Center, dan UNC Global sebagai kontribusi dari Magister Hubungan Internasional UPH dalam menanggapi dan berdiskusi tentang isu-isu internasional. Seminar internasional yang bertajuk “Indonesian in International Relations” berlangsung pada tanggal 26 dan 27 Januari 2023 waktu Amerika Serikat di UNC Nelson Mandela Auditorium, Chapel Hill serta 27 dan 28 Januari 2023 waktu Indonesia digedung UPH Kampus Pasca Sarjana, Jakarta.

Indonesia in International Relations

Wakil Rektor Bidang Akademik UPH Christine Sommers Ph.D, RN, CNE dan Vice Provost for Global Affairs and Chief Global Officer UNC Barbara Jean Stephenson membuka seminar internasional hari pertama yang menghadirkan Duta Besar Piper Campbell sebagai keynote speaker dan juga Guru Besar Magister Hubungan Internasional (MHI) UPH Prof. Aleksius Jemadu, Ph.D sebagai responden. Berbekal pengalaman saat menjalankan tugas di Jakarta sejak Juni hingga Desember 2018, Duta Besar Campbell yang pernah menjadi wakil dari Amerika Serikat untuk ASEAN tersebut ingin mengetahui perspektif dan usaha apa saja yang akan dilakukan oleh Indonesia terhadap kebijakan luar negeri (foreign policy) di masa mendatang

Baca juga  UKDW Wujudkan Gerakan Nasional Revolusi Mental Lewat Praktikum Lapangan MKWK Berbasis Proyek

I would say that Indonesia is truly the most fascinating country in the world,” ucap Prof. Campbell di awal pidatonya. Ia pun mengatakan bahwa Indonesia memiliki kompleksitas tinggi dalam hal budaya dan juga politik yang menggiringnya ke pembahasan tentang kebijakan politik luar negeri Indonesia, serta pengaruhnya pada hubungan internasional. Prof. Campbell juga memaparkan beberapa pemikirannya, seperti posisi Indonesia dalam wilayah Indo-Pasifik, kerja sama bilateral Indonesia dengan beberapa negara (Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok), dan sebagainya.

Sebagai tanggapan dari perspektif Indonesia, Guru Besar Magister Hubungan Internasional UPH Prof. Aleksius Jemadu, Ph. D. mengatakan bahwa kebijakan luar negeri yang berlaku di Indonesia memang sangat kompleks, mengingat posisi geografis negeri ini. Maka dari itu, pembuatan kebijakan luar negeri ini sendiri sangat rumit dan pemerintah berusaha untuk membuat kebijakan yang strategis dan sedinamis mungkin. Mengenai masalah kudeta Myanmar, Prof. Aleksius menyampaikan pemikirannya bahwa ASEAN bukanlah platform yang pas untuk menjembatani masalah demokrasi dan hak asasi manusia di Myanmar. Kemudian, diskusi berlanjut dalam sesi tanya jawab yang sangat komunikatif dan menarik, walaupun dilakukan secara hybrid.

Di hari kedua seminar, Prof. Christian Lentz dari UNC dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UPH Dr. Naniek Novijanti Setijadi, S.Pd., M.Si. membuka dan menyambut para narasumber dan peserta. Masih dengan tema yang sama, pembicara dengan kredibilitas tinggi yang menyampaikan materi adalah Dosen Program Studi Hubungan Internasional dengan mata kuliah Southeast Modern History UPH Dr. Yosef Marcis Djakababa, B.A., M.A., Guru Besar Antropologi Emory University di Atlanta Dr. James B. Hoesterey, dan mantan Politikus termuda dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga merupakan lulusan dari New York University Tsamara Amany Alatas.

Baca juga  Grand Final OMEN Challenger Series dan MTV Spotlight Concert Meriahkan Penutupan Indocomtech 2019

Indonesia’s Position in Global Stage: A Historical Perspective” menjadi judul presentasi Dr. Yosef yang memiliki 4 poin kesimpulan penting, yaitu:

1. Gagasan yang tertanam saat pasca kolonial dan Perang Dingin masih berlanjut sampai sekarang
sehingga turut mempengaruhi pemerintah dalam menjalankan kebijakan luar negeri
2. Merombak ulang gagasan kebijakan luar negeri bebas dan aktif
3. Pandangan umum akan Indonesia yang bisa menimbulkan asumsi keliru tentang dinamika
hubungan internasionalnya
4. Identitas diri yang terbentuk dari gagasan pasca kolonial dan memori tentang Perang Dingin
telah membantu Indonesia untuk mendapatkan perhatian di panggung global

Kemudian isu-isu internasional penting lainnya, seperti kebijakan luar negeri yang berhubungan dengan keagamaan disampaikan oleh Dr. Hoesterey dari Emory University, dan juga peran generasi muda dalam membantu tumbuh kembang negara, khususnya dalam membangun hubungan dan memperhatikan isu-isu internasional, dalam skala global disampaikan oleh Tsamara Amany menarik minat mahasiswa Magister Hubungan Internasional UPH dan juga UCN untuk aktif bertanya dan dijawab oleh para narasumber dalam memotret Indonesia di kancah Hubungan Internasional.

Baca juga  SUPER AIR JET Mulai Terbang Kembali ke Destinasi SUPER Favorit yang Paling Ngangenin, Ajak Milenial dengan Tarif SUPER Hemat Rp 367.200

Program Studi Magister Hubungan Internasional

Program MHI UPH dirancang khusus agar mahasiswa dapat mengatasi tantangan di dunia profesional saat ini, seperti ekonomi politik, keamanan, dan perdagangan. Para mahasiswa dipersiapkan untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan dan keterampilan mereka dengan aspek-aspek penting dari hubungan internasional, sehingga mampu menjadi ‘The Next Great Achiever!’. Informasi lebih lanjut hubungi Student Consultant 0812-8535-2278 atau daftar langsung di https://www.uph.edu/en/graduate-promotion-ar

Penulis: Luthfan Wira Alfiqri