Transaksi Kripto RI Turun 33% Semester 2026, Investor Naik

Transaksi Kripto RI Turun 33% Semester 2026, Investor Naik

Pasar kripto Indonesia mencatat fenomena yang tidak biasa sepanjang semester I/2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan nilai transaksi aset kripto turun tajam 33,56% secara tahunan, dari Rp226,68 triliun menjadi Rp150,60 triliun. Namun, di saat bersamaan, jumlah investor kripto justru terus bertambah.

Data OJK menunjukkan jumlah investor aset kripto naik dari 20,19 juta orang pada Desember 2025 menjadi 22,69 juta orang pada Juni 2026, atau bertambah sekitar 2,5 juta orang hanya dalam enam bulan. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi ini menandakan minat masyarakat terhadap kripto belum pudar, hanya saja pola investasinya berubah akibat tekanan daya beli.

Bacaan Lainnya

Tekanan Ekonomi dan Pasar Global

Yudho menjelaskan bahwa pelemahan transaksi tidak semata dipicu faktor domestik. Kapitalisasi pasar kripto global juga sempat anjlok sekitar 45%, dari US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi US$2,3 triliun pada Maret 2026. Di dalam negeri, membengkaknya kelompok calon kelas menengah (aspiring middle class) menjadi 142 juta orang pada 2025 turut menekan alokasi dana masyarakat untuk instrumen berisiko seperti kripto. Akibatnya, posisi Indonesia dalam peringkat adopsi kripto global versi Chainalysis pun turun dari peringkat ketiga menjadi ketujuh.

Peluang di Tengah Persaingan yang Makin Ketat

Meski transaksi melambat, minat pelaku industri terhadap pasar Indonesia tetap tinggi. Hingga pertengahan 2026, OJK telah mengizinkan 32 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto dengan lebih dari 1.200 aset yang legal diperdagangkan. Yudho menyebut dua peluang utama bagi industri: tokenized stocks, yang volume perdagangan globalnya melonjak dari US$831 juta menjadi US$54 miliar dalam setahun, serta produk derivatif yang volumenya mencapai US$12,7 triliun pada kuartal II/2026, jauh melampaui volume spot.

Menurutnya, kunci pertumbuhan jangka panjang bukan sekadar menambah jumlah investor, melainkan memastikan literasi keuangan masyarakat ikut meningkat agar mereka memahami risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Sumber: FLOQ.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan