
Jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital mencapai 23,21 juta pada Agustus 2026, naik 1,23% dibandingkan Juli 2026 yang tercatat 22,93 juta akun. Nilai transaksi aset kripto turut melonjak 12,87% secara bulanan, dari Rp20,52 triliun menjadi Rp23,16 triliun.
Pertumbuhan ini berjalan seiring dengan makin beragamnya pilihan produk aset digital yang tersedia bagi masyarakat. Bittime, perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi OJK, menyebut dirinya sebagai gerbang bagi masyarakat Indonesia untuk mengakses aset global, dengan ekosistem yang mencakup perdagangan Spot, Staking, Futures, hingga Tokenized US Stocks.
Baca juga:
- Tokenized Stocks Capai US$3 Miliar pada 2026, Minat Investor RI Naik
- Kripto Indonesia Kalah dari Singapura di Asia 2026, Apa Sebabnya?
Ragam Produk, Ragam Risiko
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menilai pertumbuhan jumlah pengguna dan transaksi perlu diiringi pemahaman masyarakat terhadap karakteristik tiap instrumen. Menurutnya, Spot memungkinkan jual beli aset kripto secara langsung, Staking menawarkan potensi imbal hasil dari aset yang dikunci sesuai ketentuan, sementara Futures adalah perdagangan derivatif dengan risiko tambahan seperti likuidasi posisi saat menggunakan leverage.
Sementara itu, Tokenized US Stocks merupakan produk token digital yang dirancang memberi eksposur terhadap saham Amerika Serikat sesuai struktur masing-masing produk. Bittime saat ini menyediakan 32 pilihan Tokenized US Stocks di platformnya. Ryan mengingatkan bahwa pengguna perlu memahami aset acuan, struktur token, serta hak dan risiko yang melekat pada produk tokenisasi, bukan sekadar melihat nama aset atau pergerakan harganya.
Ryan menambahkan bahwa setiap instrumen punya profil risiko berbeda dan tidak otomatis sesuai untuk semua orang. Ia menyarankan masyarakat mempertimbangkan tujuan keuangan, pengetahuan, serta toleransi risiko masing-masing sebelum bertransaksi, karena ketersediaan produk yang makin beragam tidak menghilangkan risiko maupun menjamin hasil investasi.
Sumber: Bittime.





