Harga Minyak WTI Turun ke US$90,55 per Barel, Apa Penyebabnya?

Harga Minyak WTI Turun ke US,55 per Barel, Apa Penyebabnya?
Ilustrasi (AI)

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat melemah ke kisaran US$90,55 per barel pada Senin, 12 Oktober 2026, setelah gagal menembus level resistance US$90,14. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyebut kegagalan tersebut diikuti pembentukan swing high baru yang mengindikasikan meningkatnya tekanan jual.

Potensi Koreksi ke US$84-86 per Barel

Berdasarkan analisis teknikal, WTI diperkirakan membentuk pola ABC Correction setelah mengalami kenaikan pada tren sekunder sebelumnya. Jika tekanan jual berlanjut, harga berpotensi menguji area support di kisaran US$86,82 hingga US$84,34. Sebaliknya, selama harga belum mampu menembus resistance US$90,14, risiko koreksi dinilai masih perlu diwaspadai pelaku pasar.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Gencatan Senjata Rusia-Ukraina vs Risiko Timur Tengah

Dari sisi fundamental, harapan tercapainya gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina menjadi salah satu faktor penekan harga, karena berpotensi meningkatkan pasokan minyak dan energi ke pasar global. Namun di sisi lain, risiko geopolitik di Timur Tengah, termasuk laporan gangguan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz, dinilai dapat membatasi penurunan harga lebih lanjut mengingat jalur tersebut merupakan rute strategis distribusi minyak dunia.

Dupoin Futures menilai kombinasi dua sentimen yang berlawanan ini membuat arah pergerakan WTI masih rentan berubah dalam waktu singkat. Pelaku pasar disarankan terus memantau perkembangan negosiasi Rusia-Ukraina maupun situasi di Timur Tengah sebagai indikator utama volatilitas harga minyak ke depan.

Perusahaan menegaskan bahwa analisis ini merupakan gambaran skenario pasar berdasarkan kondisi teknikal dan fundamental, bukan kepastian arah harga, sehingga keputusan perdagangan tetap perlu memperhitungkan risiko dan volatilitas pasar.

Catatan Redaksi. Resistance adalah level harga yang sulit ditembus karena tekanan jual cenderung menguat di titik itu, sementara swing high menandai puncak harga sebelum berbalik turun, keduanya dipakai analis teknikal untuk memperkirakan arah pergerakan selanjutnya. Selat Hormuz sendiri adalah jalur laut sempit antara Teluk Persia dan Laut Arab yang dilewati sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah, sehingga gangguan di sana biasa memicu kekhawatiran pasokan global.

Sumber: PT. Dupoin Futures Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan