
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE/PGEO) membukukan laba bersih sebesar US$126,62 juta sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 21,45 persen secara tahunan dibandingkan US$104,26 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan 10,46 persen menjadi US$352,20 juta, seiring rekor produksi listrik panas bumi yang mencapai 4.114 gigawatt hour (GWh) atau 108,22 persen dari target.
Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat menyebut pertumbuhan laba yang melampaui pertumbuhan pendapatan mencerminkan profitabilitas Perseroan yang semakin kuat. Hal ini didukung oleh peningkatan produksi, optimalisasi pendapatan, serta disiplin pengelolaan biaya. Laba usaha Perseroan turut naik 17,44 persen menjadi US$186,26 juta, sementara margin laba bersih meningkat dari 32,70 persen menjadi 35,95 persen.
Baca juga:
- Saham Apple Masuki Fase Baru, Laba Jadi Kunci Penggerak
- Kinerja Amar Bank Pecahkan Rekor, Pacu Pertumbuhan Berkelanjutan
Rekor Produksi dan Keandalan Pembangkit
Dari sisi operasional, produksi listrik panas bumi PGE naik 9,79 persen secara tahunan dan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah Perseroan. Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menyebut capaian ini hasil dari penerapan operational excellence melalui pengelolaan reservoir, pemeliharaan pembangkit, dan optimalisasi produksi yang konsisten. Keandalan pembangkit tercermin dari Equivalent Availability Factor (EAF) sebesar 98,51 persen, jauh melampaui target 92,20 persen, dengan tingkat gangguan paksa (EFOR) yang rendah di 0,21 persen.
Posisi Keuangan dan Ekspansi ke Depan
Dari sisi balance sheet, total liabilitas PGE tercatat turun menjadi US$955,55 juta dari US$988,89 juta pada akhir 2025, sementara kas dan setara kas Perseroan mencapai US$713,68 juta. Bertepatan dengan peringatan 100 tahun eksplorasi panas bumi Indonesia yang dimulai di Kamojang pada 1926, Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan komitmen Perseroan untuk terus mengembangkan potensi panas bumi nasional.
PGE saat ini mempercepat sejumlah proyek strategis, antara lain Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8, dengan target kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt pada 2028 dan 1,8 gigawatt pada 2034.
Catatan Redaksi. EAF (Equivalent Availability Factor) menunjukkan persentase waktu pembangkit siap beroperasi penuh, sedangkan EFOR (Equivalent Forced Outage Rate) mengukur seberapa sering pembangkit berhenti mendadak akibat gangguan teknis. Kedua indikator ini lazim dipakai industri kelistrikan untuk menilai keandalan pasokan, karena pembangkit panas bumi bergantung pada tekanan uap reservoir yang stabil agar turbin terus menyala. Kamojang sendiri tercatat sebagai lokasi eksplorasi panas bumi pertama di Indonesia sejak 1926.
Sumber: PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE).





