
PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menerima penghargaan The Asianpost Best State-Owned Enterprise 2026 dari The Asian Post, media yang berada di bawah Infobank Media Group. Penghargaan ini merupakan hasil penilaian kinerja keuangan perusahaan selama periode 2024–2025 melalui kajian bertajuk Rating 160 BUMN Versi The Asian Post 2026.
Dari 160 perusahaan yang masuk dalam pemeringkatan, sebanyak 61 perusahaan dinyatakan meraih predikat “Sangat Bagus” dan berhak atas penghargaan Best State-Owned Enterprise 2026. BRI Finance termasuk di antaranya dengan predikat khusus Early Excellent Performance State-Owned Enterprise Subsidiary 2026.
Baca juga:
Penghargaan diserahkan pada 8 Oktober 2026 dan diterima langsung oleh Direktur Utama BRI Finance, Ignatius Susatyo Wijoyo, dari Wakil Pemimpin Redaksi Infobank Media Group, Kanoto Mohamad.
Capaian ini sejalan dengan kinerja keuangan perusahaan yang tetap stabil di tengah kondisi industri pembiayaan, khususnya sektor otomotif, yang belum sepenuhnya pulih. Pada 2025, BRI Finance membukukan laba sebesar Rp91 miliar. Alih-alih mengejar ekspansi secara agresif, perusahaan memilih pendekatan selektif dalam penyaluran pembiayaan dengan mempertimbangkan kualitas portofolio dan pengendalian risiko.
Memperkuat Fondasi Pertumbuhan
BRI Finance juga mengoptimalkan sinergi dengan BRI Group untuk memperluas peluang bisnis, terutama pada segmen pembiayaan konsumer. Ke depan, perusahaan berencana melanjutkan pengembangan segmen tersebut secara lebih terarah, didukung peningkatan kapabilitas operasional dan pemanfaatan teknologi, sembari tetap menjaga kualitas aset dan disiplin pengelolaan risiko.
Catatan Redaksi. Predikat ‘Sangat Bagus’ dalam pemeringkatan ini biasanya disusun dari rasio keuangan seperti profitabilitas, efisiensi, dan kualitas aset perusahaan BUMN, sehingga menjadi penilaian independen di luar laporan keuangan resmi perusahaan. Pendekatan selektif dalam penyaluran pembiayaan yang disebut di sini berarti perusahaan memilah calon debitur berdasarkan profil risiko ketimbang mengejar volume, strategi umum ketika sektor otomotif melambat dan risiko kredit macet meningkat.
Sumber: BRI Finance.





