Mahabharata dan 2 Naskah Kuno India Resmi Diakui UNESCO di Jakarta

Mahabharata dan 2 Naskah Kuno India Resmi Diakui UNESCO di Jakarta
Ilustrasi (AI)

Tiga naskah kuno India resmi tercatat dalam Register Regional Asia-Pasifik Memory of the World UNESCO, menyusul keputusan yang diambil dalam Sidang Umum ke-11 UNESCO Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP). Sidang tersebut diselenggarakan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta pada 2 hingga 6 November 2026. Dengan pengakuan ini, total naskah India yang tercatat dalam register regional tersebut kini menjadi enam.

Ketiga naskah yang diakui adalah Arthasastra karya Kautilya (Chanakya), kitab klasik tentang tata kelola pemerintahan dan strategi negara yang tersimpan dalam bentuk naskah daun lontar abad ke-16 di Oriental Research Institute, Mysuru; Rajatarangini karya Kalhana, kronik sejarah Kashmir abad ke-12 yang tersimpan di Oriental Research Library, Srinagar; serta naskah kulit kayu Mahabharata beraksara Sharada yang tersimpan di Bhandarkar Oriental Research Institute, Pune. Indira Gandhi National Centre for the Arts (IGNCA) berperan menyiapkan berkas nominasi ketiga naskah tersebut.

Bacaan Lainnya

Makna bagi Hubungan India-Indonesia

Di antara ketiganya, Mahabharata dinilai memiliki ikatan khusus dengan Indonesia. Kisah epik ini telah lama diadaptasi ke dalam budaya Nusantara melalui wayang kulit, tari tradisional, dan sastra, termasuk Kakawin Bharatayuddha yang ditulis di Jawa pada abad ke-12. Kedekatan ini dipandang sebagai bukti hubungan peradaban dan masyarakat yang telah terjalin lama antara India dan Indonesia.

Pencatatan ketiga naskah tersebut diharapkan memperkuat pengakuan dunia atas kontribusi India dalam bidang sastra, sejarah, filsafat, dan pemikiran politik, sekaligus mendukung pelestarian warisan dokumenter yang dianggap penting bagi peradaban global.

Catatan Redaksi. Memory of the World adalah program UNESCO sejak 1992 untuk mendata dan melestarikan warisan dokumenter dunia, mulai dari manuskrip kuno hingga arsip bersejarah, agar tidak hilang akibat kerusakan fisik maupun kelalaian. Pengakuan di tingkat regional Asia-Pasifik ini menjadi jenjang sebelum sebuah naskah diajukan ke daftar global. Masuknya Mahabharata ke dalam daftar ini juga relevan bagi Indonesia karena kisah tersebut sudah menyatu dengan tradisi lokal lewat wayang dan kakawin sejak berabad lalu, jauh sebelum era kolonial maupun kemerdekaan kedua negara.

Sumber: Embassy of India, Jakarta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan