
Tasya, remaja penyandang tuli asal Bali, kembali menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Setelah lebih dulu dikenal di dunia modeling sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar, ia kini melebarkan sayap ke dunia perfilman.
Sepanjang kariernya sebagai model, Tasya telah mengumpulkan sejumlah penghargaan, di antaranya TOP Model Indonesia 2022 dengan Piala Bergilir RI, TOP Model Peragawati Provinsi Bali, Miss Preteen Jakarta, dan Best Modeling Cilik. Ia juga pernah tampil di fashion runway Thailand serta ASEAN Fashion Festival di Lippo Mall Jakarta pada 20 September 2026.
Melangkah ke Dunia Film
Kini Tasya ambil bagian dalam film drama inklusif berjudul Terangku Dalam Gelapku, garapan sutradara Mimi Jegon. Film ini mengangkat kisah persahabatan lima anak penyandang disabilitas, menyoroti tema keberagaman, penerimaan, perjuangan, dan kesetaraan kesempatan. Lewat cerita tersebut, penonton diajak melihat anak-anak disabilitas dari sisi potensi dan kemampuan mereka, bukan dari keterbatasannya.
Menariknya, Mimi Jegon sebelumnya dikenal lewat delapan film horor yang pernah ia garap. Lewat Terangku Dalam Gelapku, ia mencoba pendekatan baru melalui genre drama sosial dan kemanusiaan. Film ini direncanakan tayang pada 3 Desember 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional.
Keterlibatan Tasya dalam proyek ini juga dipandang sebagai momentum untuk mendorong perkembangan ekosistem perfilman di Bali. Selain dikenal sebagai destinasi wisata dan pusat seni budaya, Bali dinilai memiliki potensi besar untuk tumbuh sebagai salah satu pusat produksi film nasional, sekaligus membuka ruang apresiasi bagi talenta disabilitas di industri hiburan.
Catatan Redaksi. Hari Disabilitas Internasional yang jatuh setiap 3 Desember ditetapkan PBB sejak 1992 untuk mendorong kesadaran publik dan kesetaraan hak penyandang disabilitas di berbagai bidang, termasuk hiburan. Istilah film inklusif pada konteks ini merujuk pada praktik melibatkan langsung penyandang disabilitas sebagai pemeran, bukan aktor nondisabilitas yang memerankan karakter disabilitas, sehingga pengalaman yang ditampilkan dianggap lebih merepresentasikan kondisi nyata.
Sumber: 7Aksara Komunika.





