
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG UNPAD) merilis hasil penelitian yang menunjukkan adanya perbaikan sejumlah indikator kesehatan mulut pada perokok dewasa yang beralih sepenuhnya ke produk tembakau alternatif. Temuan ini dipaparkan oleh Guru Besar Ilmu Periodonsia FKG UNPAD, Prof. Dr. Amaliya, dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) 2026 di Jakarta pada 21 Oktober 2026.
Prevalensi Merokok di Kalangan Marinir
Penelitian ini dilatarbelakangi tingginya angka merokok di lingkungan militer. Menurut Amaliya, tekanan pekerjaan dan beban tugas menjadi faktor utama di balik kebiasaan tersebut. Survei tim peneliti FKG UNPAD pada 2026 mencatat prevalensi merokok aktif di kalangan marinir mencapai 45,8 persen, hampir dua kali lipat dibandingkan masyarakat umum yang berkisar 22-23 persen. Sebagian besar responden mengaku sudah berusaha berhenti merokok namun masih mengalami kesulitan.
Metode dan Temuan Penelitian
Studi dilakukan selama 90 hari dengan membandingkan kondisi personel marinir yang beralih sepenuhnya dari rokok ke produk tembakau alternatif dengan mereka yang tetap merokok. Beberapa indikator yang diukur meliputi aliran darah gusi menggunakan alat laser Doppler, kondisi klinis gusi, kemampuan mengenali rasa, serta kadar karbon monoksida dalam embusan napas.
Hasilnya, kelompok yang beralih total ke produk tembakau alternatif menunjukkan perbaikan aliran darah gusi dengan warna gusi yang lebih cerah, serta peningkatan signifikan dalam kemampuan mengenali rasa asin, manis, dan asam. Kadar karbon monoksida pada kelompok ini juga turun secara signifikan setelah tiga bulan, mendekati tingkat yang biasa ditemukan pada orang yang tidak merokok.
Bagian dari Pendekatan Tobacco Harm Reduction
Amaliya menjelaskan bahwa peralihan ini merupakan bentuk penerapan tobacco harm reduction (THR), yakni pendekatan pengurangan paparan zat berbahaya dari proses pembakaran rokok yang patut dipertimbangkan bagi perokok dewasa yang belum mampu atau belum bersedia berhenti merokok sepenuhnya. Ia menekankan pentingnya edukasi berbasis bukti agar konsumen dewasa memahami pilihan serta risiko yang ada, meski berhenti merokok tetap menjadi pilihan utama untuk menghindari risiko kesehatan. “Risiko yang akan didapat dengan beralih lebih rendah jika dibandingkan terus merokok,” ujarnya.
Pemaparan ini berlangsung dalam forum SIERA 2026 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (PERTASINDO) di Jakarta pada 21-23 Oktober 2026, mengangkat tema penguatan ketahanan kesehatan nasional berbasis bukti.
Catatan Redaksi. Tobacco harm reduction adalah pendekatan yang berangkat dari fakta bahwa bahaya utama rokok datang dari proses pembakaran tembakau, bukan nikotin itu sendiri, sehingga produk tanpa pembakaran dianggap mengurangi paparan zat toksik. Kadar karbon monoksida dalam napas dipakai sebagai penanda standar tingkat pembakaran yang terhirup, karena gas ini hanya terbentuk signifikan saat tembakau dibakar, bukan dipanaskan atau diuapkan.
Sumber: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG UNPAD).





