
Platform analitik bisnis Sanggabright, besutan Sanggabiz, akan menjadi salah satu sorotan dalam ajang Jogja Business & Economic Outlook (JBEO) 2027 yang digelar Kamis, 19 November 2026, di Wyndham Garden Yogyakarta. Acara ini mengusung tema “From Resilience to Renewal: Membaca Ekonomi, Menggerakkan Bisnis, Mengeksekusi Teknologi AI”, dengan fokus mempertemukan strategi bisnis dengan eksekusi teknologi secara langsung.
Mengubah Data Mentah Jadi Keputusan Bisnis
Sanggabright diposisikan sebagai konsultan virtual bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini kerap mengambil keputusan berdasarkan asumsi karena sulit membaca data operasional. Platform ini mengolah data mentah menjadi wawasan yang dapat langsung ditindaklanjuti secara real-time, dengan tujuan meningkatkan efisiensi operasional harian sekaligus memperbesar peluang UMKM mengakses pembiayaan dari investor maupun lembaga keuangan.
Bukan Sekadar Booth Pameran
Berbeda dari pameran konvensional, Sanggabiz mengubah area foyer dan ruang jejaring JBEO 2027 menjadi live showcase interaktif. Pengunjung yang hadir bisa langsung mencoba dasbor Sanggabright, melihat simulasi penggunaannya, dan berdiskusi langsung dengan tim Sanggabiz mengenai tantangan operasional bisnis masing-masing, alih-alih hanya menyimak brosur atau presentasi statis.
Pembahasan lebih mendalam soal penerapan Sanggabright di level eksekutif akan disampaikan dalam sesi Product Showcase yang dipandu oleh Yoga Samsugiharja. Sesi ini ditujukan bagi pemimpin bisnis, pelaku UMKM, dan pembuat kebijakan yang ingin memahami cara memanfaatkan data operasional untuk pengambilan keputusan strategis. Informasi tiket dan registrasi acara dapat diakses melalui akun Instagram resmi @jbeo.official.
Catatan Redaksi. Istilah konsultan virtual di sini merujuk pada dasbor analitik yang mengotomatisasi pengolahan data transaksi dan operasional sehari-hari menjadi indikator yang mudah dibaca, tanpa memerlukan analis data khusus. Kemampuan mencatat data operasional secara rapi juga relevan untuk pembiayaan, sebab lembaga keuangan dan investor umumnya menilai kelayakan kredit UMKM dari riwayat arus kas dan konsistensi transaksi, bukan dari laporan manual yang rawan selisih.
Sumber: Sanggabiz.





