
Industri manufaktur tercatat sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar Indonesia pada triwulan II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor ini tumbuh 5,32 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen, dengan kontribusi hampir seperlima terhadap perekonomian nasional.
Pemulihan ini berakar dari sejumlah kebijakan Kementerian Perindustrian di era Menteri Agus Gumiwang Kartasasmita saat pandemi Covid-19, antara lain penerbitan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) agar pabrik tetap beroperasi, insentif PPnBM Ditanggung Pemerintah untuk sektor otomotif, serta konsolidasi produksi alat kesehatan dalam negeri. Kombinasi kebijakan tersebut disebut membantu melindungi jutaan pekerja dari risiko pemutusan hubungan kerja dan mempercepat pemulihan industri dibanding negara-negara ASEAN lain.
Baca juga:
- Perkembangan Stabil Pertumbuhan PDB Bank DBS Indonesia di Awal Tahun 2023
- Geliat Manufaktur Kembali Subur
Investasi dan Tenaga Kerja Terus Naik
Investasi di sektor manufaktur melonjak dari Rp259 triliun pada 2020 menjadi Rp697 triliun pada 2024, dengan realisasi investasi baru periode 2024-2026 mencapai Rp1.002 triliun yang menopang hampir 3.500 fasilitas produksi baru. Penyerapan tenaga kerja di sektor ini juga naik dari 17,44 juta orang pada 2020 menjadi 20,26 juta pada 2025, atau sekitar 13,57 persen dari total penduduk bekerja per Februari 2026.
Secara global, nilai tambah manufaktur Indonesia naik dari 210,4 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 265,07 miliar dolar AS pada 2025 menurut data Bank Dunia, menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia dan tertinggi di ASEAN, melampaui gabungan Thailand dan Vietnam. Sektor ini juga menjadi tulang punggung ekspor nasional dengan porsi 80,27 persen dari total ekspor pada 2025.
Kepercayaan Industri Masih Ekspansif
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dikembangkan Kemenperin sejak November 2022 konsisten berada di zona ekspansi dan mencatat rekor 54,12 pada Januari 2026, sebelum melandai ke 51,93 pada September 2026. Searah dengan itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur versi S&P Global naik dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026, didorong kenaikan pesanan ekspor tercepat sejak Mei 2022. Ekonom INDEF Esther Sri Astuti menilai Indonesia cukup berhasil menyelamatkan kinerja manufaktur meski belum sepenuhnya pulih, sementara Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani menegaskan manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekspor nasional.
Catatan Redaksi. PMI dan IKI berasal dari sumber berbeda, PMI disusun S&P Global lewat survei manajer pembelian global, IKI dihitung Kemenperin dari responden industri domestik, tapi keduanya memakai ambang sama: di atas 50 berarti ekspansi, di bawah 50 kontraksi. Nilai tambah manufaktur versi Bank Dunia mengukur nilai output industri setelah dikurangi biaya bahan baku, sehingga menggambarkan seberapa besar proses produksi domestik menyumbang nilai ekonomi, bukan sekadar volume barang yang dihasilkan.
Sumber: PT Digivla Indonesia.





