
Kabupaten Kebumen di pesisir selatan Jawa Tengah kini tidak lagi sekadar menjadi jalur lintasan antara Jawa Barat dan Yogyakarta. Pengakuan internasional terhadap bentang alamnya serta peningkatan layanan kereta api membuat daerah ini perlahan bertransformasi menjadi destinasi wisata mandiri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kebumen mencatat kunjungan wisatawan nusantara menembus 2,77 juta hingga Agustus 2025. Tren ini berbanding lurus dengan data PT KAI Daop 5 Purwokerto yang menunjukkan volume penumpang kereta antarkota tumbuh lebih dari 14 persen secara tahunan, menandakan moda rel sebagai penggerak utama mobilitas wisatawan ke kawasan tersebut.
Pengakuan UNESCO untuk Geopark Kebumen
Faktor utama di balik lonjakan ini adalah masuknya Geopark Kebumen ke dalam jaringan UNESCO Global Geoparks dengan julukan “The Mother of Earth”. Kawasan yang meliputi 22 kecamatan dan 374 desa ini menyimpan lebih dari 40 situs geologi purba, mulai dari tebing karst Pantai Menganti, gua karang di Karangbolong, formasi stalaktit di Goa Jatijajar dan Goa Petruk, hingga singkapan batuan dasar samudra purba di Karangsambung yang dikenal sebagai salah satu laboratorium geologi terbuka di Asia Tenggara.
Pemerintah Kabupaten Kebumen menyebut pariwisata berbasis geopark bukan sekadar upaya konservasi, melainkan instrumen pemerataan ekonomi. Perputaran uang dari sektor ini dinilai mengalir langsung ke pengelola desa wisata, perhotelan, transportasi lokal, hingga pelaku kuliner seperti perajin lanthing dan penjual sate ambal.
Okupansi Hotel Ikut Terdongkrak
Perubahan pola wisatawan dari sekadar melintas menjadi menetap dan menjelajah tercermin dari Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kebumen yang naik ke level 65,58 persen pada Desember 2025, menurut Survei VHTS BPS Kebumen. Namun rata-rata lama menginap yang masih berkisar 1,13 malam membuka peluang bagi paket wisata terintegrasi untuk memperpanjang durasi tinggal. Mengingat jarak dari pusat kota ke kawasan pesisir Menganti atau gua karst Ayah mencapai 40–50 kilometer, pelaku wisata menyarankan agenda dua hari: hari pertama untuk eksplorasi kota dan kuliner, hari kedua khusus menyusuri pesisir dan geopark.
Catatan Redaksi. Status UNESCO Global Geoparks bukan sekadar predikat keindahan alam, melainkan pengakuan atas warisan geologi penting yang dikelola lewat kombinasi konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi warga sekitar, berbeda dari status taman nasional yang lebih menitikberatkan pelestarian hayati. Artikel ini bersumber dari siaran pers Liberta Hotel International, operator hotel yang turut dibahas lewat data tingkat penghunian kamarnya.
Sumber: Liberta Hotel International.





