
PT KAI Logistik, anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero), mencatatkan volume angkutan barang sekitar 6,2 juta ton pada triwulan III 2026. Angka ini menjadi kinerja triwulanan tertinggi yang dicapai perusahaan sepanjang tahun 2026. Secara kumulatif sejak Januari hingga September 2026, total angkutan barang yang dikelola perusahaan telah mencapai 14,9 juta ton.
Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, volume angkutan pada triwulan III 2026 tumbuh sekitar 4% secara tahunan, dari sebelumnya sekitar 5,9 juta ton. Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, menyebut pemulihan industri batu bara sebagai salah satu pendorong utama kenaikan ini, dengan volume angkutan perusahaan naik sekitar 2,6 juta ton dibandingkan posisi awal tahun.
Baca juga:
- KAI Logistik Catat Rekor Kontainer 280 Ribu Ton Agustus 2026
- Kinerja Amar Bank Pecahkan Rekor, Pacu Pertumbuhan Berkelanjutan
Batu Bara Masih Jadi Andalan
Komoditas batu bara menyumbang porsi terbesar, yakni sekitar 69% dari total volume angkutan triwulan III 2026 atau setara 4,3 juta ton. Yuskal mengatakan capaian ini mendorong perusahaan untuk memperkuat keandalan operasional sekaligus mengoptimalkan potensi angkutan di berbagai segmen bisnis guna mendukung distribusi komoditas strategis nasional.
Selain batu bara, kinerja perusahaan turut ditopang oleh angkutan bahan bakar minyak dan bahan bakar khusus sebesar 870 ribu ton, peti kemas 844 ribu ton, serta semen 130 ribu ton. Layanan bongkar muat crude palm oil mencatatkan volume sekitar 34 ribu ton, sementara angkutan retail melalui KALOG Express mencapai 24 ribu ton.
Memasuki triwulan IV 2026, KAI Logistik menyatakan optimismenya untuk terus mendorong kinerja melalui pengembangan layanan angkutan hewan ternak dan hasil bumi, perluasan titik layanan retail, serta digitalisasi proses operasional. Perusahaan berharap langkah-langkah tersebut dapat memperkuat perannya dalam menjaga kelancaran rantai pasok nasional.
Catatan Redaksi. Batu bara mendominasi angkutan kereta karena sifatnya curah dan bervolume besar, sehingga kereta lebih efisien mengangkutnya dalam jumlah banyak dan jarak jauh, biasanya dari tambang ke pelabuhan atau pembangkit listrik, dibandingkan truk. Karena itu, volume angkutan komoditas ini cenderung naik turun mengikuti siklus harga dan permintaan energi global, bukan semata kinerja operasional perusahaan logistiknya.
Sumber: PT KAI Logistik.





