
FisTx Indonesia, perusahaan teknologi akuakultur asal Yogyakarta, mengumumkan bahwa teknologi sterilisasi air tambak bernama Cakra Elektrolisis kini beroperasi di empat titik strategis di Pulau Jawa. Teknologi berbasis elektrokimia ini dirancang sebagai pengganti kaporit yang selama ini jadi andalan petambak udang untuk menjaga kualitas air.
Empat lokasi yang kini menerapkan Cakra Elektrolisis adalah tambak di Pantai Blimbingsari, Banyuwangi (Jawa bagian timur), Kota Serang di Banten (Jawa bagian barat), tambak KSO FisTx di Purworejo (pantai selatan Jawa), dan tambak milik PT Ghana Utamadi Dhuniara di Jepara (pantai utara Jawa). Keempat titik ini dipilih karena mewakili kondisi perairan dan pola budidaya yang berbeda-beda di sepanjang Pulau Jawa.
Baca juga:
- Cakra Elektrolisis FisTx Jadi Sorotan di FARM 2026
- FisTx Tawarkan Alternatif Kaporit untuk Tambak Udang di FARM 2026
Diajak Buktikan Sendiri lewat Sampel Air
FisTx mengatakan tidak ingin petambak sekadar percaya klaim perusahaan. Calon pengguna dipersilakan mengambil sampel air langsung di lokasi dan memeriksa kualitasnya melalui laboratorium atau alat uji pilihan mereka sendiri, dengan kunjungan yang dikoordinasikan oleh tim FisTx. CEO FisTx Indonesia, Rico Wisnu Wibisono, menyebut kepercayaan tambak-tambak besar di Jawa terhadap Cakra Elektrolisis menunjukkan petambak Indonesia kini siap memilih teknologi dalam negeri sebagai pengganti kaporit yang harus dibeli dan ditangani berulang setiap siklus budidaya.
Perusahaan menyebut salah satu kolam di area Banyuwangi yang menerapkan sistem ini mencatat hasil panen siklus pertama pada Juli 2026 sebanyak 9.501 kg dari luasan 5.000 meter persegi, dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) 82 persen. Cakra Elektrolisis merupakan bagian dari rangkaian sistem disinfeksi FisTx yang juga mencakup Baskara UV dan Nano Disinfektan, dan sempat didemonstrasikan dalam ajang FARM 2026 di Jakarta pada akhir September 2026.
FisTx menyebut kebutuhan teknologi semacam ini sejalan dengan target pertumbuhan industri udang nasional, yang menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP mencapai lebih dari 1 juta ton per April 2026 dengan target sekitar 2 juta ton per tahun. Perusahaan menyarankan calon pengguna berkonsultasi lebih dulu dengan tim teknisnya agar spesifikasi alat disesuaikan dengan kondisi tiap tambak.
Catatan Redaksi. Elektrolisis air tambak umumnya bekerja dengan mengalirkan arus listrik ke air yang mengandung garam, memecahnya menjadi klorin aktif atau oksidan lain yang membunuh bakteri dan patogen secara langsung di lokasi, tanpa perlu bahan kimia yang dibeli dan dicampur manual seperti kaporit setiap siklus tambak. Survival rate atau tingkat kelangsungan hidup adalah persentase udang yang berhasil dipanen dari jumlah benur yang ditebar di awal, indikator umum keberhasilan budidaya.
Sumber: FisTx Indonesia.





