Bitcoin Tembus US$77.000 Meski The Fed dan BOJ Naikkan Bunga

Bitcoin Tembus US.000 Meski The Fed dan BOJ Naikkan Bunga

Bitcoin mendapat ujian baru setelah dua bank sentral besar dunia—Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat dan Bank of Japan (BOJ)—sama-sama menaikkan suku bunga acuan dalam pekan yang sama. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen pada 16 September 2026, kenaikan pertama sejak 2023. Dua hari berselang, BOJ turut menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25 persen, level tertinggi dalam sekitar 31 tahun.

Kenaikan suku bunga biasanya dianggap sebagai sinyal negatif bagi aset berisiko seperti Bitcoin karena investor punya alternatif instrumen berimbal hasil lebih aman. Namun kali ini responsnya berbeda: BTC justru sempat kembali menembus level US$77.000 tak lama setelah keputusan BOJ diumumkan.

Bacaan Lainnya

Baca juga:

Ekspektasi Pasar Lebih Menentukan daripada Arah Suku Bunga

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai reaksi pasar terhadap kebijakan bank sentral tidak bisa dibaca secara hitam-putih. Menurutnya, jika kenaikan suku bunga sudah diperkirakan pasar sebelumnya, dampak negatifnya terhadap harga bisa jauh lebih kecil. Fokus investor kemudian bergeser ke pertanyaan soal arah likuiditas global ke depan, bukan sekadar naik-turunnya suku bunga itu sendiri.

Dolar AS dan Bayang-Bayang Yen Carry Trade

Kebijakan The Fed berpengaruh besar karena dolar AS menjadi tulang punggung sistem keuangan global; suku bunga yang lebih tinggi membuat imbal hasil aset berbasis dolar makin menarik dan berpotensi memperketat likuiditas. Di sisi lain, kenaikan suku bunga BOJ membawa risiko tersendiri lewat potensi pembalikan yen carry trade—strategi pendanaan murah dalam yen yang selama ini banyak dipakai investor global untuk membeli aset berimbal hasil lebih tinggi. Meski begitu, kenaikan BOJ kali ini dinilai sudah banyak diantisipasi pasar sehingga tidak memicu aksi jual besar-besaran pada Bitcoin.

Empat Indikator yang Perlu Dipantau Investor Bitcoin

Yudho mengingatkan bahwa pergerakan Bitcoin ke depan akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed berikutnya, pergerakan dolar AS, kebijakan BOJ beserta nilai tukar yen, dan kondisi likuiditas global secara keseluruhan. Menurutnya, investor sebaiknya tidak hanya bertanya apakah suku bunga naik atau turun, melainkan apakah keputusan tersebut lebih hawkish atau dovish dibanding ekspektasi pasar—sebab di situlah kejutan pergerakan harga biasanya muncul.

Sumber: FLOQ.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan