
PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik), anak usaha PT Kereta Api Indonesia (Persero), mencatat total pengelolaan 12,7 juta ton barang sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Capaian ini menunjukkan tren positif, dengan volume bulanan yang terus naik dari 1,1 juta ton pada Januari menjadi 2,07 juta ton pada Agustus 2026, angka tertinggi sepanjang tahun berjalan.
Batu Bara Masih Jadi Andalan
Segmen angkutan batu bara tetap menjadi penopang utama bisnis perusahaan dengan realisasi 8,2 juta ton atau sekitar 64% dari total volume. Aktivitas bongkar muat batu bara via kereta api juga melonjak dari sekitar 590 ribu ton pada Januari menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada Agustus, sejalan dengan kebutuhan distribusi untuk sektor energi dan industri.
Baca juga:
- KAI Logistik Angkut 1,9 Juta Ton Barang Juli 2026, Peti Kemas Naik 28%
- KAI Logistik Angkut 1,9 Juta Ton Barang, Peti Kemas Naik 28%
Diversifikasi Lewat Peti Kemas dan Layanan Ritel
Di luar batu bara, KAI Logistik memperkuat diversifikasi bisnis melalui layanan KALOG Plus untuk angkutan peti kemas, yang mencatat volume sekitar 2 juta ton atau 16% dari total angkutan hingga Agustus 2026. Sementara itu, layanan pengiriman ritel KALOG Express membukukan total 54.645 ton, dengan volume tertinggi terjadi pada Agustus sebesar 8.369 ton. Segmen non-kontainer yang mencakup semen, limbah B3, dan CPO turut menyumbang sekitar 332 ribu ton.
VP of Corporate Secretary KAI Logistik, Dwi Wulandari, menyatakan bahwa kinerja hingga Agustus 2026 memperlihatkan ruang pertumbuhan yang masih terbuka, baik dari sisi volume maupun komposisi bisnis. Ia menekankan pentingnya penguatan berbagai segmen, mulai dari peti kemas, kurir, hingga komoditas non-kontainer, agar layanan perusahaan tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan.
Memasuki akhir tahun, KAI Logistik berencana melanjutkan penguatan kapasitas dan kualitas layanan, memperluas kerja sama dengan pelanggan strategis, serta mengoptimalkan jaringan angkutan berbasis kereta api guna mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir 2026.
Catatan Redaksi. KALOG Plus dan segmen non-kontainer menunjukkan pola umum bisnis logistik kereta api, yakni mengandalkan komoditas curah bervolume besar seperti batu bara sebagai penopang utama sambil memperluas ke peti kemas dan barang eceran untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis muatan. Model bisnis semacam ini lazim di perusahaan logistik rel karena kereta unggul mengangkut volume besar jarak jauh secara efisien, sementara peti kemas dan kurir menyasar segmen barang bernilai lebih variatif.
Sumber: PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik).





