
Penyedia layanan social media marketing (SMM) panel di Indonesia mencatat bahwa layanan untuk Instagram dan TikTok konsisten menjadi dua layanan dengan permintaan tertinggi sepanjang 2026, dari total 549 jenis layanan yang tersedia di platform tersebut. Data ini berasal dari catatan pemesanan internal sistem panel selama tahun berjalan.
Temuan tersebut sejalan dengan posisi Instagram dan TikTok sebagai dua media sosial dengan jumlah pengguna terbesar di Indonesia. Berdasarkan Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet 2026 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), TikTok menempati posisi teratas dengan porsi akses 31,8 persen, disusul Facebook 29,4 persen, dan Instagram 27,7 persen. Meski secara persentase akses Facebook unggul dari Instagram, pola permintaan di SMM panel justru menunjukkan Instagram tetap bertahan sejajar dengan TikTok sebagai layanan paling banyak dipesan.
Baca juga:
- IndonesiaSMMPanel Luncurkan Layanan SMM Panel 14 Kategori
- Mengenal SMM Panel, Tren Baru Percepat Pertumbuhan Medsos
Variasi Layanan Terbanyak
SMM panel sendiri merupakan sistem berbasis dashboard yang memungkinkan pengguna memesan layanan pertumbuhan media sosial seperti followers, likes, comments, dan views secara mandiri dan otomatis begitu pembayaran diterima, tanpa negosiasi manual dengan penyedia jasa. Katalog yang ditawarkan mencakup lebih dari 13 platform, mulai dari YouTube, Facebook, Twitter/X, Telegram, Spotify, Threads, hingga WhatsApp Channel, namun Instagram dan TikTok tercatat memiliki variasi layanan paling banyak, mulai dari penambahan followers dengan berbagai kecepatan proses, likes untuk foto/video/reels, views, hingga layanan komentar dan interaksi yang bisa disesuaikan kebutuhan akun.
“Instagram dan TikTok masih jadi tumpuan utama kebutuhan followers, likes, dan views pengguna kami, sejalan dengan pola konsumsi media sosial masyarakat Indonesia yang memang paling terkonsentrasi di dua platform tersebut,” ujar Eko, SEO Specialist SMM Panel Indonesia. Ia menambahkan bahwa Instagram banyak dipesan oleh pengelola akun bisnis dan personal branding yang mengutamakan sisi visual, sementara TikTok lebih banyak dipesan untuk kebutuhan jangkauan cepat pada konten video pendek.
Reseller Jadi Penggerak Permintaan
Selain pengguna individu dan pengelola akun bisnis, sebagian besar volume pemesanan Instagram dan TikTok berasal dari reseller yang menjual ulang layanan tersebut ke klien masing-masing dengan frekuensi pemesanan yang lebih tinggi. Untuk mendukung segmen ini, penyedia panel juga menyediakan akses API agar reseller bisa menyambungkan katalog layanan langsung ke situs atau bot mereka sendiri. Harga tiap layanan ditampilkan per 1.000 unit lengkap dengan batas minimum dan maksimum pemesanan, sehingga reseller dapat menghitung margin sebelum menawarkannya ke pelanggan.
Catatan Redaksi. SMM panel bekerja dengan menyambungkan pemesanan followers, likes, atau views ke jaringan penyedia engagement otomatis, yang sering berupa akun bot atau layanan click farm, sehingga prosesnya berjalan tanpa interaksi manusia sungguhan di baliknya. Praktik menambah interaksi secara artifisial seperti ini umumnya bertentangan dengan ketentuan layanan platform seperti Instagram dan TikTok, meski tetap banyak dipakai karena sulit dideteksi secara instan. Model harga per 1.000 unit yang disebut dalam artikel adalah cara lazim industri digital marketing menghitung tarif volume tinggi, mirip prinsip CPM pada iklan digital.
Sumber: PT BisnisOn Digital Solutions.





